Langsung ke konten utama

Kuntum Yang Hilang


Disuatu hari, tanpa sengaja kita bertemu di sebuah taman yang sepi dan sunyi. ketika aku melihatmu senyuman yang dulu pernah hilang datang kembali. Tetapi hatiku kembali rapu ketika aku melihat engkau sudah ada yang punya, ingin rasanya aku selalu ada didekatmu namun apalah daya angan tak sampai. Kekasih bayanganku, aku selalu merindukanmu disaat sepiku disetiap malamku aku selalu selipkan doa untukmu. Apakah kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini. Aku merasa tersiksa dengan dirimu yang dulu datang hanya meninggalkan sebuah kenangan terindah dan itu semua membuatku terasa rapuh. Apakah episode itu kita bisa berulang kembali, aku selalu mengingat saat-saat bersamamu. Terimakasih atas motivasi yang engkau berikan kepadaku sehingga aku masih tetap berdiri tegak sampai saat ini. Kata-katamu masih ku ingat ketika kamu meminta sebuah keputusan yang membuat aku terauma dan terpuruk dengan sebuah kata mencintai. Pada saat itu aku merasa kehidupanku tida ada artinya, tetapi aku juga tidak memaksa dirimu untuk mencintaiku dimana aku tahu bahwa aku bukan orang yang tepat untuk dirimu. Tetapi ketika aku menemukanmu kembali, aku merasa bahwa rindu yang selama ini terpendam sudah terobati, walaupiun hanya sebuah hayalanku saja untuk memilikimu kembali, aku tidak memiliki komitmen yang kuat untuk memilikimu untuk kembali lagi dalam hangatnya pelukanku. 

Cukup menyedihkan perpisahan yang paling menyakiti adalah yang tidak terucap dan takpernah dijelaskan. Untukmu kekasih bayanganku. Terkadang lebih baik tidak mengatakan apa-apa dan biarkan keheningan yang menjawabnya ada rindu yang lebih sunyi dari rindu di waktu malam menuju pagi. Diam-diam merayu Tuhan. Doa-doa baik tentang dia dikirimkan.

Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...