Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Hegemoni di Zaman Konsensus Palsu: Membaca Gramsci tentang Kekuasaan yang Sunyi

Mengapa masyarakat sering menerima keadaan yang sebenarnya merugikan mereka? Mengapa ketimpangan sosial, dominasi ekonomi, atau kebijakan yang tidak populer tetap bertahan tanpa perlawanan besar? Pertanyaan ini pernah diajukan oleh seorang pemikir Italia bernama Antonio Gramsci hampir seabad lalu. Jawabannya masih terasa relevan hari ini. Ia ahir di Sardinia pada 1891 dan tumbuh dalam pergolakan sosial-politik Italia, Gramsci menyaksikan secara langsung krisis liberalisme dan bangkitnya fasisme di bawah Benito Mussolini. Dalam kondisi terpenjara oleh rezim tersebut, ia menulis refleksi-refleksi mendalam yang kemudian dikenal sebagai  Prison Notebooks  sebuah laboratorium konseptual yang melahirkan teori hegemoni .  Setiap orang adalah intelektual, tetapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat ( Antonio Gramsci   1891) . Gramsci hidup di bawah rezim fasis Benito Mussolini . Dari dalam penjara, ia menulis catatan yang kemudian dikenal seba...

Ketika Doa Terasa Sunyi: Refleksi Iman Katolik di Tengah Hidup yang Melelahkan

Ada saat-saat ketika doa terasa sunyi. Kata-kata tetap terucap, ritus tetap dijalankan, tetapi hati seakan kosong. Hidup yang melelahkan oleh tuntutan ekonomi, pendidikan, relasi, dan tanggung jawab membuat doa tidak lagi terasa menenangkan seperti dulu. Dalam kesunyian itu, orang beriman kerap bertanya dalam diam apakah Tuhan masih mendengarkan? Dokumentasi Hendrianus beerdoa di Gereja Kristus Raja Ruteng. Pengalaman ini bukan tanda iman yang runtuh. Dalam perjalanan iman Katolik, kesunyian justru kerap menjadi bagian dari proses pendewasaan rohani. Iman tidak selalu tumbuh di tengah penghiburan ia sering dimurnikan di tengah kelelahan dan ketidakpastian. Doa kerap dipahami sebagai sumber penghiburan instan. Ketika doa tidak menghadirkan ketenangan atau jawaban yang jelas, kekecewaan pun muncul. Namun, iman Katolik mengajarkan bahwa doa bukan sekadar sarana untuk merasa baik, melainkan ruang perjumpaan yang jujur antara manusia yang rapuh dan Allah yang setia. Kitab Suci sendiri tid...

Kudatuli sebagai Cermin Retak Demokrasi: Refleksi Progresif Melawan Reaksioner

Sejarah bangsa ini tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan gema, luka, dan pertanyaan yang terus menuntut keberanian untuk dijawab. Kudatuli bukan sekadar catatan tanggal dalam buku sejarah, melainkan simbol retaknya demokrasi ketika kekuasaan merasa terancam oleh suara rakyatnya sendiri. Dari peristiwa itu, kita belajar bahwa demokrasi tidak selalu tumbuh di ruang yang steril, ia sering lahir dari benturan, represi, dan keberanian untuk bertahan. Hendrianus J. Pahur , merasa pilu mendengar pristiwa kudatuli yang mengkambing  hitamkan mahasiswa.  Bagi mahasiswa, Kudatuli bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi cermin kritis bagi kesadaran hari ini. Apakah kita akan menjadi generasi yang sekadar menghafal sejarah, atau generasi yang menafsirkannya sebagai panggilan untuk berpihak pada keadilan? Di tengah kecenderungan politik elitis dan reaksi kekuasaan yang membungkam, refleksi atas Kudatuli menjadi relevan sebagai ruang pembentukan sikap: progresif, kritis, dan revolusion...

INDONESIA INDOSIAR

Sejarah Rakyat Indonesia adalah Sejarah Ketertindasan. Gelora reformasi yang terjadi sekarang, telah melupakan hakikat ketertindasan karena seolah-olah setelah kita mendapatkan kebebasan politik atau demokrasi politik, maka ketertindasan struktural berupa kesengsaraan dan kebodohan pun tidak terjadi lagi. Dengan kebebasan politik itu, seolah-olah rakyat pastilah akan mencapai kebahagiaan. Hendrianus J. Pahur , menolak reksioner elitis.  Revolusi adalah penggulingan kekuasaan pemerintah yang sah serta penghapusan konstitusi pemerintah oleh kelas sosialis yang bertujuan mengubah struktur sosial masyarakat” ( Pakar Marxis Prof. Dr. Herberth Marcuse , Guru Besar Universitas Harvard ) .  Bersandar pada revolusi itu berarti menolak reaksiner elitis. Negara revolusi seperti apa keti kedaulatan itu masih terasa pasif. Kritikan demi kritikan dilontarkan hanya untuk mencapai demokrasi yang bijak dan baik. The govermend of the people, by the people, for the people yang di daraskan oleh...

SMA Negeri 3 Lamba Leda

Harapan dalam Terang Iman Refleksi Seorang Alumni Angkatan 2021 dalam Perspektif Teologi Katolik SMA Negeri 3 Lamba Leda bukan hanya ruang akademik dalam perjalanan hidup saya, tetapi juga medan pembentukan manusia seutuhnya. Sebagai alumni tahun 2021, saya melihat sekolah ini sebagai tempat di mana akal budi, karakter, dan harapan saya bertumbuh. Dalam terang iman Katolik , pengalaman ini memiliki makna yang lebih dalam. Pendidikan adalah bagian dari karya keselamatan Allah bagi manusia. Foto Hendrianus Jerinus Pahur, Alumni SMAN 3 Lamba Leda.  Gereja Katolik mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan menurut citra dan rupa Allah ( Imago Dei ; Kej. 1:27). Artinya, setiap peserta didik terrmasuk siswa-siswi SMAN 3 Lamba Leda memiliki martabat yang luhur dan tidak dapat direndahkan oleh kondisi geografis, ekonomi, atau keterbatasan fasilitas. Kesadaran inilah yang secara tidak langsung saya alami selama bersekolah. Saya diajar untuk percaya bahwa kami berharga dan mampu berkemba...

SMAN 3 LAMBA LEDA MENETAS HARAPAN.

Desa Compang Mekar, Kecamatan Lambaleda , Kabupaten Manggarai Timur , berdiri SMAN 3 Lamba Leda sekolah menengah atas negeri yang telah menjadi simbol harapan bagi anak-anak di wilayah terpencil. Sejak berdiri pada 7 Juni 2013, sekolah ini menjadi tempat di mana mimpi bertemu dengan kerja keras, dan semangat belajar tumbuh meski tantangan tidak sedikit. Dokumentasi Siswa Lulusan tahun 2023 Yang membuat SMAN 3 Lamba Leda begitu istimewa bukan hanya gedung atau fasilitasnya, melainkan semangat guru dan siswa setiap hari. Para guru rela menempuh jalan telford yang licin dan terjal demi memastikan setiap murid mendapatkan pendidikan terbaik. Sementara siswa-siswi menapaki jalan yang sama, membawa mimpi dan harapan mereka ke ruang kelas. Ini adalah bukti nyata bahwa semangat belajar tidak mengenal keterbatasan. Selain itu, SMAN 3 Lamba Leda terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan akreditasi C, dukungan listrik PLN , dan akses internet, sekolah ini membuka peluang belajar y...

Refleksi Teologis: Persahabatan Sebagai Garda Dalam Langkah Kehidupan

    Persahabatan adalah anugerah kasih Allah yang menghadirkan kebersamaan, kesetiaan, dan saling menopang, sehingga manusia tidak berjalan sendiri, melainkan diteguhkan dan dituntun dalam setiap langkah hidup menuju kebaikan dan kedewasaan iman.  Dalam terang iman Kristen, persahabatan bukan sekadar hubungan sosial yang lahir dari kebersamaan, melainkan anugerah Allah yang menghadirkan kasih-Nya secara nyata dalam kehidupan manusia. Persahabatan menjadi garda yang menjaga dan menuntun langkah hidup, terutama ketika manusia menghadapi tantangan, kelelahan, dan kebingungan arah. Dalam pengalaman konkret, persahabatan kampus yang saya hidupi bersama Paulus Mario Maarselino menjadi ruang di mana makna teologis persahabatan itu dialami dan direnungkan. Dokumentasi Bersama Paulus Mario Marselino, Ruteng, 14 Januari 2026.              Kitab Suci menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk relasional. Pernyataan Allah, Tidak baik...