Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari 15, 2026

Ketika Doa Terasa Sunyi: Refleksi Iman Katolik di Tengah Hidup yang Melelahkan

Ada saat-saat ketika doa terasa sunyi. Kata-kata tetap terucap, ritus tetap dijalankan, tetapi hati seakan kosong. Hidup yang melelahkan oleh tuntutan ekonomi, pendidikan, relasi, dan tanggung jawab membuat doa tidak lagi terasa menenangkan seperti dulu. Dalam kesunyian itu, orang beriman kerap bertanya dalam diam apakah Tuhan masih mendengarkan? Dokumentasi Hendrianus beerdoa di Gereja Kristus Raja Ruteng. Pengalaman ini bukan tanda iman yang runtuh. Dalam perjalanan iman Katolik, kesunyian justru kerap menjadi bagian dari proses pendewasaan rohani. Iman tidak selalu tumbuh di tengah penghiburan ia sering dimurnikan di tengah kelelahan dan ketidakpastian. Doa kerap dipahami sebagai sumber penghiburan instan. Ketika doa tidak menghadirkan ketenangan atau jawaban yang jelas, kekecewaan pun muncul. Namun, iman Katolik mengajarkan bahwa doa bukan sekadar sarana untuk merasa baik, melainkan ruang perjumpaan yang jujur antara manusia yang rapuh dan Allah yang setia. Kitab Suci sendiri tid...

Kudatuli sebagai Cermin Retak Demokrasi: Refleksi Progresif Melawan Reaksioner

Sejarah bangsa ini tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan gema, luka, dan pertanyaan yang terus menuntut keberanian untuk dijawab. Kudatuli bukan sekadar catatan tanggal dalam buku sejarah, melainkan simbol retaknya demokrasi ketika kekuasaan merasa terancam oleh suara rakyatnya sendiri. Dari peristiwa itu, kita belajar bahwa demokrasi tidak selalu tumbuh di ruang yang steril, ia sering lahir dari benturan, represi, dan keberanian untuk bertahan. Hendrianus J. Pahur , merasa pilu mendengar pristiwa kudatuli yang mengkambing  hitamkan mahasiswa.  Bagi mahasiswa, Kudatuli bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi cermin kritis bagi kesadaran hari ini. Apakah kita akan menjadi generasi yang sekadar menghafal sejarah, atau generasi yang menafsirkannya sebagai panggilan untuk berpihak pada keadilan? Di tengah kecenderungan politik elitis dan reaksi kekuasaan yang membungkam, refleksi atas Kudatuli menjadi relevan sebagai ruang pembentukan sikap: progresif, kritis, dan revolusion...