Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu.
Aku membuka lembar demi lembar
dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah
mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu
indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras
dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam.
Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemukan foto itu. Dalam hati kecilku
berbisik bahwa mungkin masih ada sisa rasa rindumu terhada diriku. Aku melihat
foto itu dan aku mulai berpikir apakah aku masih bisa kembali memperbaiki rumah
kecilku yang sudah runtuh.
Sepenuh hati kuyakinkan diriku untuk melangkahi setiap jejak pada hatimu. Mengikuti asrar hati yang sudah lama bergejolak. Pandanganku tertuju pada sebuah rona yang terus melintas di pikiranku, tentang kita dan awal pertemuan itu. Pada persimpangan jalan, ku lihat jejak pada matamu. Begitu gemulai kau merajut seuntai kasih dengan benang yang indah.
Ku kira ini kisah kita, Tenyata
engkau hanyalah lakon dari kisah yang kurajut sendiri. Seketika ku lihat pintu
tua itu. Ku ketuk dan mencoba mencari daksamu yang pernah hirap dari
kehidupanku. Namun nihil, tenyata kau sudah mencoret tanya pada seorang yang
lebih dahayu di persimpangan jalan itu. Dengan hati berdebar, ku ketuk pintu
itu, berharap masih ada kesempatan untuk memulai lagi.
pahur hendrianus and Daiman Maria Silvia
