Langsung ke konten utama

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman, terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.

        Dalam susana yang hening

Perempuan berjubah, dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?

 Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menenangkan sebagai jalan keluar dari neraka yang kurasakan. Namun, ironisnya, dalam kegelapan malam, aku menyadari bahwa surga yang kau janjikan ternyata adalah bayangan yang gelap, menyisakan kekosongan dan kepedihan.

 Aku, laki-laki yang penuh dosa, telah menyerah pada panggilan surga yang kau tawarkan. Aku meninggalkan segalanya, bahkan cinta yang telah kukorbankan begitu lama, demi harapan akan kedamaian surgawi. Namun, pada akhirnya, aku menyadari bahwa aku tidak sendiri. Ada banyak laki-laki  lain yang juga terjerat dalam janji surga yang kau bawa.

Dalam kebingungan dan penyesalan, aku hanya bisa memohon ampun kepada Sang Pencipta. Ampunilah aku, laki-laki yang penuh dosa ini, yang telah terpesona oleh janji surga palsu.

 

Perempuan berjubah, izinkanlah aku menyampaikan satu pesan: Tanggalkanlah jubahmu, jangan biarkan surga itu menjadi tawanan bagi laki-laki yang hancur oleh janji-janji palsu. Biarkanlah yang kudus menjadi milik mereka yang benar-benar terpanggil. Aku, laki-laki yang penuh dosa, menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa, yang pada akhirnya akan menjadi Hakim terakhir bagi hidupku.

 

Salam dari laki-laki Pendosa, yang mencoba menemukan cahaya dalam kegelapan yang kubangun sendiri.

 

Hendrianus Pahur,,,,

 

Postingan populer dari blog ini

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...