Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman, terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.
Dalam susana yang hening
Perempuan berjubah, dalam keheningan pagi ini, doaku
adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara
relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring
di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi
yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang
menggetarkan jiwa?
Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menenangkan sebagai jalan keluar dari neraka yang kurasakan. Namun, ironisnya, dalam kegelapan malam, aku menyadari bahwa surga yang kau janjikan ternyata adalah bayangan yang gelap, menyisakan kekosongan dan kepedihan.
Aku, laki-laki yang penuh dosa, telah menyerah pada panggilan surga yang kau tawarkan. Aku meninggalkan segalanya, bahkan cinta yang telah kukorbankan begitu lama, demi harapan akan kedamaian surgawi. Namun, pada akhirnya, aku menyadari bahwa aku tidak sendiri. Ada banyak laki-laki lain yang juga terjerat dalam janji surga yang kau bawa.
Dalam kebingungan dan penyesalan, aku hanya bisa
memohon ampun kepada Sang Pencipta. Ampunilah aku, laki-laki yang penuh dosa
ini, yang telah terpesona oleh janji surga palsu.
Perempuan berjubah, izinkanlah aku menyampaikan satu
pesan: Tanggalkanlah jubahmu, jangan biarkan surga itu menjadi tawanan bagi laki-laki
yang hancur oleh janji-janji palsu. Biarkanlah yang kudus menjadi milik mereka
yang benar-benar terpanggil. Aku, laki-laki yang penuh dosa, menyerahkan
segalanya kepada Yang Maha Kuasa, yang pada akhirnya akan menjadi Hakim
terakhir bagi hidupku.
Salam dari laki-laki Pendosa, yang mencoba menemukan
cahaya dalam kegelapan yang kubangun sendiri.
Hendrianus Pahur,,,,