Langsung ke konten utama

ANGAN TAK SAMPAI


Memandangi hujan yang semakin deras.


Ruteng-kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur. Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan reda. 

Waktu berlalu dengan cepat, keduanya semakin terpesona satu sama lain. Mereka menemukan banyak kesamaan dan ketertarikan di antara mereka. Perbincangan yang hangat dan mendalam seakan melupakan hujan yang turun dengan derasnya. Namun, saat mereka akan mengungkapkan perasaan yang mendalam, hujan pun semakin deras. Dalam sekejap, hujan deras membasahi mereka berdua dan menghalangi pandangan mereka. “Sepertinya kita harus menunggu lebih lama lagi,” Kata pahur sambil tertawa kecil, mencoba membuat suasana tetap ceria meskipun hujan semakin deras. Perempuan muda itu mengangguk sambil tersenyum. “Aku berharap bisa segera pulang, tetapi tampaknya alam punya rencana tersendiri, ia menitipkan hujan untuk menghalangi perjalanan pulangku. “ Mereka pun terus berbincang, menertawakan hal-hal kecil dan membagikan mimpi serta harapan. Namun, waktu terus berjalan dan hujan pun mulai mereda. Tetes-tetes terakhir hujan masih terdengar lembut di atap halte, menciptakan simfoni penutup yang indah untuk pertemuan mereka. Perempuan muda itu melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi sekarang, keluargaku sudah datang jemput. " Sebuah mobil datang menjemputnya".


                                          Disaat Setesan Hujan Memantul Diaspal

Pahur mengangguk, wajahnya terlihat sedikit sedih namun tetap tersenyum. "Tentu, aku mengerti. Semoga kita bisa bertemu lagi." Perempuan muda itu tersenyum lembut dan menaiki mobilnya. "Terima kasih untuk perbincangan yang menyenangkan, pahur. Aku harap kita bisa bertemu lagi di lain waktu." Pahur memandangi mobil perempuan muda itu berjalan menjauh, meninggalkan halte sambil diselimuti kabut. Hatinya terasa hangat meski pertemuan mereka begitu singkat. Ia lupa meminta nomor hanpone dari permpuan itu, dalam hati kecilnya iya berharab bisah bertemu lagi dilain waktu, untuk melanjutkan kisah yang tertunda .

Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...