Waktu berlalu dengan cepat, keduanya semakin terpesona satu sama lain. Mereka menemukan banyak kesamaan dan ketertarikan di antara mereka. Perbincangan yang hangat dan mendalam seakan melupakan hujan yang turun dengan derasnya. Namun, saat mereka akan mengungkapkan perasaan yang mendalam, hujan pun semakin deras. Dalam sekejap, hujan deras membasahi mereka berdua dan menghalangi pandangan mereka. “Sepertinya kita harus menunggu lebih lama lagi,” Kata pahur sambil tertawa kecil, mencoba membuat suasana tetap ceria meskipun hujan semakin deras. Perempuan muda itu mengangguk sambil tersenyum. “Aku berharap bisa segera pulang, tetapi tampaknya alam punya rencana tersendiri, ia menitipkan hujan untuk menghalangi perjalanan pulangku. “ Mereka pun terus berbincang, menertawakan hal-hal kecil dan membagikan mimpi serta harapan. Namun, waktu terus berjalan dan hujan pun mulai mereda. Tetes-tetes terakhir hujan masih terdengar lembut di atap halte, menciptakan simfoni penutup yang indah untuk pertemuan mereka. Perempuan muda itu melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi sekarang, keluargaku sudah datang jemput. " Sebuah mobil datang menjemputnya".
Ruteng-kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur. Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan reda.
Pahur mengangguk, wajahnya terlihat sedikit sedih namun tetap tersenyum. "Tentu, aku mengerti. Semoga kita bisa bertemu lagi." Perempuan muda itu tersenyum lembut dan menaiki mobilnya. "Terima kasih untuk perbincangan yang menyenangkan, pahur. Aku harap kita bisa bertemu lagi di lain waktu." Pahur memandangi mobil perempuan muda itu berjalan menjauh, meninggalkan halte sambil diselimuti kabut. Hatinya terasa hangat meski pertemuan mereka begitu singkat. Ia lupa meminta nomor hanpone dari permpuan itu, dalam hati kecilnya iya berharab bisah bertemu lagi dilain waktu, untuk melanjutkan kisah yang tertunda .