Sore itu ketika seorang pria gagah berpakaian sederhana, mengintari gazebo perpustakan kampus Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, dia berjumpa dengan seorang wanita yang pernah dia dekati dulu. Sambil menghela nafas dia pelan-pelan mendekati wanita itu dan berusaha untuk beranikan dirinya untuk memegang tangan perempuan itu. dari kejauhan dia melihat seorang laki-laki tampan dengan mobil mewah mendekati perempuan itu, mengecup keningnya serta merangkulnya, sembari membuka pintu mobil untuknya. perempuan itu masuk ke dalam mobil itu dan menoleh kebelakang melambaikan tangan tanda perpisahan diatara mereka. penyesalan menghantui lelaki itu tetapi dalam hati kecilnya berbisik, "wahai nona engkau memang cinta pertamaku namun backhground ku tidak pantas untukmu". Lalu dia melanjutkan perjalananya menuju sebuah kantin dekat kampus itu. Tibalah dia disebuah kantin depan kampus itu, dia mulai menikmati secangkir kopi ditemani senja yang menunjukan romansanya tersendiri bumi menampilkan panorama yang indah untuk menemani hati dan batinya yang kacau. Sampai hari mulai gelap dia menuliskan kata-kata hasil refleksinya dengan buku saku yang dia selalu gendong ditas kecilnya.
Dia pun mulai menulis, Padanya adalah tempat ku berbagi kisah. Pahit manisnya hidup yang kulalui kan kuceritakan padanya. Tak sekalipun kusangsikan bahwa ia tak pernah peduli atas cerita dan kisah yang lalui. Saya percaya ia akan membawanya ke sana secara perlahan dan menghilang bersama ceritaku dan esok akan kembali membawa kabar baru. Sedang kopi yang sedari tadi kuseruput mulai kehilangan aromanya karena mendingin. Setelah aku menyadari ketidakberadaanya lagi, aku mulai bertanya pada semesta, di manakah dia? Apakah ada orang lain yg mengambilnya? Malam pun tiba dan dingin mulai menyelimuti kota itu dengan kabut tebal menghalangi pandanganku. Kabut itu seolah-olah memaksaku pulang. “Pulanglah, Besok kau masih bisa bercerita dengannya, karena dia pergi dan pasti akan kembali”. Terima kasih senja, sampai jumpa di senja-senja berikutnya. Kekasihku....
Senja di ufuk barat memamerkan kecantikanya, namun keegoisan bumi dia tida memberikan waktu yang cukup lama buat senja untuk selalu memamerkan kecantikanya itu. Bumi terlalu cepat untuk meninggalkanya dan menberikan kegelapan pada dunia, senjapun pamit tanpa berkata-kata. Dia memberikan kecantikanya dengan tulus tetapi bumi ada saja sikapnya untuk menyembunyikan kecantikanya, kadang bumi memberinya mendung. Begitu pula dengan kehidupan. orang berusaha terlihat manis. namun, orang tertentu yang meyakinkannya dan mengakui kecantikanya. Mengapa demikian terjadi?Kecemasan dan keraguanku muncul dimana
dia tidak pernah bercerita tentang siapa dirinya, aku mulai penasaran dengan kehangatan
yang dia berikan padaku. Panorama yang indah terlukis namun hanya separuh yang
ku dapat. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena saingan duniawiku yang
kuat. Akupun mundur langkah demi langkah. Dia hanya bisa meliriku, dengan berat
hati aku mundur namun apalah daya harapanku tidak tercapai. Senja yang nyatanya
sangan indah menampilkan romansa yang unik. Namun, pepohonan menutup
pandanganku untuk aku yang sedang berdiri dibalik himpitnya dunia.
Cinta adalah fasilitas batin yang harus
dimiliki setiap individu. Keinginan untuk saling memiliki itu adalah sebuah
keharusan dari setiap hati. Tanpa bertanya, kenapa adanya kedua perasaan itu.
Pernikahan adalah fasilitas sosial, fasilitas ekonomi. Maka untuk melengkapi
itu kedua sejoli saling melengkapi dan menjunjung tinghi kesetaraan gender.
Perselisihan terjadi karena seseorang memupuk keangkuhan dan kesombongan.
Ciptakan ketulusan dalam sebuah hubungan. "Semakin sering kita merajut
benang pasti akan membentuk sebuah kain". Tetaplah berkarya, jadilah
pribadi yang baik tetapi jangan merasa paling baik.
pahur dan maria