Tiga hari di Novisiat Santo Klaus Kuwu sebuah perjalanan yang singkat namun meninggalkan jejak mendalam di hati. Dari 3 hingga 5 Oktober 2025, kami, keluarga besar Ormawa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, mengikuti kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM). Waktu berlalu begitu cepat, tapi setiap detik terasa berarti, membentuk kenangan yang akan terus hidup di ingatan.
LKMM di Kuwu bukan semata pelatihan. Ia adalah kisah kebersamaan, pembelajaran, dan penemuan
jati diri. Kami tidak hanya belajar teori tentang manajemen
organisasi, tetapi juga belajar memimpin dengan hati, berpikir jernih, dan bertindak bijak.
Kuwu menjadi ruang tempat kami ditempa bukan hanya secara intelektual, tetapi
juga secara emosional dan spiritual.
Wisma Siloam
1 – Tempat Hati Kaum Hawa Bertumbuh
Tak jauh dari sana, Wisma Siloam 1 menjadi tempat bernaung bagi kaum hawa.
Di sana, suasana keakraban tumbuh dari sapaan kecil dan tawa ringan. Pada
awalnya, suasana masih kaku dan penuh kecanggungan, tapi perlahan berubah
menjadi kehangatan yang mempersatukan. Salah satu momen yang membekas adalah
saat Lectio Divina sebuah saat
teduh yang membuka hati untuk Tuhan dan diri sendiri.
Dalam keheningan doa, setiap peserta merenungkan perjalanan hidup,
pergulatan batin, dan harapan masa depan. Air mata, senyum, dan keheningan
berpadu menjadi bahasa yang tidak perlu diterjemahkan. Suasana tenang itu
menuntun kami pada kedamaian yang tulus dan kesadaran untuk memperbaiki diri.
Setiap pagi dimulai dengan senam bersama dan diakhiri dengan obrolan ringan yang
penuh tawa. Hari-hari di Kuwu mengajarkan kami untuk fokus pada proses, bukan
hasil. Di sana kami berlatih mengubah cara berpikir dan bertindak, meninggalkan
kebiasaan lama, dan menumbuhkan karakter baru yang lebih dewasa dan berjiwa
melayani.
Wisma
Siloam 2 – Persinggahan Kaum Adam
Di
Wisma Siloam 2,
tempat kami para kaum adam beristirahat, malam terasa panjang namun sarat
makna. Di bawah lampu yang redup, kami bertukar cerita, tawa, dan canda yang
hangat. Malam pertama terasa aneh; aku seperti serigala liar yang tiba-tiba berada di tengah kawanan domba canggung, tapi perlahan mulai menyatu dalam suasana persaudaraan.
Kawasan Novisiat yang terbentang lebih dari tiga belas hektar menjadi lahan
subur untuk menanam benih pengetahuan. Di situlah kami belajar menghargai
proses, menumbuhkan rasa tanggung jawab, dan saling menguatkan. Setiap langkah
di tanah Kuwu membawa kesan tersendiri seolah setiap pohon, angin, dan tawa
menjadi saksi tumbuhnya semangat kami sebagai mahasiswa dan calon pemimpin.
Kuwu mengajarkan arti disiplin, kerja sama, dan ketulusan dalam perjuangan.
Dalam keheningan malam, ketika hanya terdengar desir angin dan suara jangkrik,
aku sadar bahwa kekuatan sejati muncul bukan dari diri sendiri, melainkan dari
kebersamaan dengan orang lain yang memiliki tujuan yang sama.
Kuwu
– Guru dalam Keheningan
Kini, setelah kembali ke Ruteng, bayangan tentang Kuwu masih berputar
di kepala seperti film yang terus diputar ulang dalam hati. Aku merindukan
tempat itu; bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi karena semangat hidup yang tumbuh di
dalamnya. Kuwu bukan sekadar lokasi kegiatan, melainkan guru kehidupan yang mengajarkan
makna kebersamaan, kepemimpinan, dan kasih yang sederhana.
Tiga hari di Kuwu telah menjadi lukisan abadi dalam perjalanan kami sebagai mahasiswa dan
manusia. Kami belajar bahwa setiap proses, sekecil apa pun,
memiliki nilai yang tak ternilai. Ada tawa, ada lelah, ada refleksi, dan ada
cinta semuanya melebur menjadi kenangan yang akan terus menguatkan langkah
kami di masa depan.
Kuwu, engkau bukan hanya tempat singgah,
tetapi juga rumah bagi
semangat dan persaudaraan kami.
Di sanalah kami belajar arti menjadi satu,
menjadi manusia yang saling menghidupi dalam kasih yang tak lekang oleh waktu.