Bina Akrab BEM FKIP Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, 2025.
Foto bersama di gereja Paroki Wae Lengga.
Wae Lengga bukan sekadar tempat ia adalah ruang batin tempat kami bertumbuh, mengakar dalam rasa, dan membangun persaudaraan yang tulus. Paroki ini menyapa setiap harapan, menjadi saksi bisu rintihan jiwa yang kadang tak terdengar.Bagaimana dengan kerangka pikiranku yang tenggelam dalam derasnya suasana hati? Aku tak mampu melepaskan diri dari rasa itu, rasa yang membentuk dan memeluk.
Malam api unggun kala itu menjadi wadah untuk melebur perasaan. Dalam lingkaran cahaya hangatnya, kami melekat dalam kesamaan rasa, berbagi cerita yang mengundang gejolak dan membakar semangat.
Realitas kehidupan selalu menari dalam benak kadang miris, kadang menggugah. Namun di situlah kami belajar, di tengah tawa dan tangis yang menyatu dalam nyala api.
Kebersamaan malam itu mengajak setiap dari kami untuk merenung, merintih dalam diam, menyambung sendi-sendi yang sempat mati. Mungkin di antara kobaran itu, kita pernah berbincang, mengukir cerita, meski dalam diam.
Berdikari berdiri di atas kaki sendiri itulah tonggak utama kami untuk meraih pengetahuan sejati. Namun, pertanyaan mendasarnya: pengetahuan seperti apa yang sesungguhnya ingin kita gapai?
Dunia luar begitu luas, tak cukup hanya diam dalam zona nyaman. Hidup tak selalu ramah kadang, amarah dan kebencian menghantam dan membakar tumbuh kita, mengundang luka, menyisakan beban, membingungkan arah.
Namun di Wae Lengga, kami ditempa. Bina Akrab BEM FKIP 2025 menjadi fondasi, menjadi batu pertama yang kami pijak untuk membentuk diri. Kami tak sekadar hadir kami bertumbuh bersama.
Tawa dan canda dalam setiap jiwa akan membekas dalam langkah panjang kami. Aula Paroki Wae Lengga menyimpan cerita malam Minggu, tepat pukul dua belas, aku tertidur, hanyut dalam mimpi indah.
Dalam mimpi itu, seorang perempuan mengelus kepalaku lembut dan menenangkan. Tapi itu hanya bayang, penenang sesaat. Senyumnya yang tipis, masih tertinggal di sudut ingatanku.
Aku melihat kilau kreativitas dari tiap mahasiswamereka penuh potensi, penuh semangat. Aku merasa seperti benih bersayap siap terbang, siap tumbuh.
Kami bertempa dalam pemikiran, berdiskusi dalam narasi yang beragam. Aku tertegun melihat setiap kepala saling mengadu pikiran, membahas aksi, menata langkah.
Kami bukan sekadar hadir. Kami sedang membentuk masa depan. Kearaban terasa begitu mendalam membekas dalam dada. Lantunan lagu perpisahan yang mengiring kami untuk mengakhiri kegiatan singkat ini.
Beranihlah dalam setiap langkah, kelak menjadi bekal untuk menyambut waktu yang menyapa kita.

