Langsung ke konten utama

MOMEN ASISTENSI NATAL TAHUN 2025.

Di Jalan yang Menyempit, Hati Kami Justru Dilapangkan
Catatan Asistensi Natal Mahasiswa Pendidikan Teologi di Stasi St. Petrus Kole, paroki St. Pio Langke Majok.

Ruteng, Selasa, 23 Desember 2025. Tepat pukul dua belas siang, kami memulai perjalanan menuju Stasi St. Petrus Kole. Jalan yang kami lalui terasa lebih sempit dari biasanyabukan karena badan jalan mengecil, melainkan karena hati kami yang dipenuhi harap, penasaran, dan sedikit cemas. Di setiap kepala mahasiswa berputar pertanyaan yang sama: “Kami akan diterima seperti apa?”

Gereja Stasi St. Petrus Kole.

Pertanyaan itu wajar. Kami datang bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai mahasiswa yang hendak tinggal, bekerja, berbaur, dan melayani umat selama beberapa hari menjelang Natal. Stasi St. Petrus Kole, Paroki St. Pio Langke Majok, menjadi tujuan asistensi kami tahun ini, sebuah nama yang kelak tak lagi sekadar alamat, melainkan rumah kenangan.

Kami adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng. Hari itu, kami menjalani salah satu rutinitas kampus yang selalu dinanti sekaligus menguras energi. Kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan pastoral dan kepekaan sosial, tetapi juga menguji daya tahan fisik, mental, dan yang sering luput disebut daya tampung perut. Asistensi Natal bertujuan membantu kelancaran perayaan Natal 2025 di tiga keuskupan di Manggarai: Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Ende, dan Keuskupan Ruteng. Dan tahun ini, Stasi St. Petrus Kole menjadi salah satu pelabuhan cerita kami.

Begitu tiba, kami disambut secara adat. Ada senyum tulus, jabat tangan hangat, dan kata-kata penerimaan yang terasa sederhana namun penuh makna. Lelah perjalanan seolah menguap seketika. Di momen itu, kami sadar di tempat ini, kami tidak hanya “diterima”, tetapi perlahan dipulangkan sebagai keluarga.

Tak lama kemudian, kami dibagikan tempat penginapan. Sebagian mahasiswa tinggal dan berkarya di Stasi Kole, sementara sebagian lainnya diutus ke Stasi Pong Wakar. Sejak hari pertama, aktivitas kami nyaris tanpa jeda: menyiapkan liturgi, melatih koor, membantu dekorasi Natal, mendampingi umat, hingga menemani anak-anak yang dengan polos bertanya,
“Kakak nanti pulang kapan? Besok atau sudah mau tinggal di sini saja?”
Pertanyaan sederhana itu sering membuat kami tersenyum, sekaligus terdiam.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi juga mengadakan kegiatan kateketese di setiap KBG yang ada di Stasi Kole dan Stasi Pong Wakar. Katekese menjadi ruang berbagi iman tempat mahasiswa dan umat saling belajar, saling menguatkan, dan saling mendengarkan. Dengan semangat yang luar biasa, seluruh mahasiswa menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Diskusi iman berlangsung hangat, sederhana, dan membumi jauh dari kesan menggurui, dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sesi foto bersama umat di
KBG St. Damian Ruum 2, Stasi Pong Wakar,
Desa Mata Wae, Kec. Satar Mese Utara.

Hari-hari di Stasi Kole berjalan dengan ritme khas desa. Pagi yang dingin menusuk tulang, siang yang sibuk oleh aktivitas, dan malam yang selalu ramai oleh cerita. Tawa sering pecah di dapur, di beranda rumah umat, bahkan di halaman gereja. Kadang karena cerita lucu, kadang karena salah paham bahasa, dan kadang… karena terlalu kenyang makan.

Soal makan, umat Stasi Kole seolah memiliki satu misi tak tertulis mahasiswa tidak boleh lapar. Baru saja sendok diletakkan, sudah terdengar pertanyaan, “Masih ada tempat kah?” Menolak terasa seperti dosa kecil, menerima berarti perjuangan besar melawan perut sendiri. Namun di situlah kami belajar: kasih sering kali hadir dalam bentuk sepiring nasi dan senyum tulus.

Kebersamaan yang hangat di Stasi St. Petrus Kole,
Paroki St. Pio Langke Majok.

Puncak perayaan tentu terjadi pada Hari Raya Natal. Liturgi berlangsung khidmat, penuh makna, dan terasa hidup karena keterlibatan aktif umat. Nyanyian, doa, dan suasana gereja menghadirkan Natal sebagai peristiwa iman yang nyata, bukan sekadar rutinitas tahunan. Kebersamaan yang terbangun selama asistensi inilah yang membuat Natal sungguh dirayakan, bukan hanya diperingati.

Malam tanggal 25 Desember, kebahagiaan berlanjut dalam malam kesenian bersama umat Stasi Kole. Tawa ria bercampur dalam suasana hangat malam itu. Penampilan kreasi dari mahasiswa UNIKA, OMK, serta anak-anak TK, SD, dan SMP membongkar kekakuan dan menggantinya dengan keceriaan. Malam itu, perbedaan usia, peran, dan status melebur dalam satu kebersamaan yang jujur.

Dokumentasi Malam Kesnian
di Halaman Gereja Stasi St. petrus Kole,
Paroki Langke Majok.


Tanggal 26 Desember 2025, hari pulang pun tiba. Berat. Ada pelukan yang lama dilepas, ada senyum yang disembunyikan agar air mata tak jatuh, dan ada janji yang diucapkan pelan:
“Kalau ada waktu, kembali lagi.” Umat Stasi Kole terlalu baik untuk dilupakan. Dari penerimaan hingga perpisahan, mereka memberi lebih dari yang kami harapkan. Jika Natal adalah tentang kasih yang menjadi nyata, maka di Stasi St. Petrus Kole kami menemukannya dalam senyum sederhana, dalam sepiring makanan, dan dalam kebersamaan yang tulus. Kami datang sebagai mahasiswa asistensi. Kami pulang membawa cerita, kenangan, dan hati yang diam-diam ingin kembali.

Sesi foto bersama umat KBG St. Damian Ruum 2,
Stasi Pong Wakar, paroki Langke Majok
sebelum berangkat pulang ke Ruteng 





Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...