Langsung ke konten utama

INDONESIA INDOSIAR

Sejarah Rakyat Indonesia adalah Sejarah Ketertindasan. Gelora reformasi yang terjadi sekarang, telah melupakan hakikat ketertindasan karena seolah-olah setelah kita mendapatkan kebebasan politik atau demokrasi politik, maka ketertindasan struktural berupa kesengsaraan dan kebodohan pun tidak terjadi lagi. Dengan kebebasan politik itu, seolah-olah rakyat pastilah akan mencapai kebahagiaan.
Hendrianus J. Pahur, menolak reksioner elitis. 


Revolusi adalah penggulingan kekuasaan pemerintah yang sah serta penghapusan konstitusi pemerintah oleh kelas sosialis yang bertujuan mengubah struktur sosial masyarakat” (Pakar Marxis Prof. Dr. Herberth Marcuse, Guru Besar Universitas Harvard)Bersandar pada revolusi itu berarti menolak reaksiner elitis. Negara revolusi seperti apa keti kedaulatan itu masih terasa pasif. Kritikan demi kritikan dilontarkan hanya untuk mencapai demokrasi yang bijak dan baik. The govermend of the people, by the people, for the people yang di daraskan oleh Abrham Lincoln miris bagi indonesia yang penuh luka kolektif. Luka itu diplaster dengan kasa lupa yang menupuk duka merambat keseluruh sendi kehidupan. 

Pada tahun 1995 Ir. Soekarno, mengatakan sepucuk kalimat dengan lantang mengguncang kedaulatan. Revolusi harus tahu mana lawan mana kawan, Aku cinta kaum nasionalis tetapi kaum nasionalis  yang revolusioner, Aku cinta kaum agama tetapi kaum agama yang revolusioner, Aku cinta komunis tetapi kaum komunis yang revolusioner. Pemikiran ini menghantarkan kita pada pertanyaa refolusi yang seperti apa ketika kita  lupa akan pergerakan yang progresif. Beberapa pemikiran para tokoh perjuangan Indonesiab sebagaibberikut; Ki Hajar Dewantara menulis Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan bersifat tiga macam: berdiri sendiri (zelstandig), tidak tergantung pada orag lain (onafhankelijk), dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijeid, zelfsbeschikking).” Kalau istilah Belanda itu diterjemahkan kedalam jargon yang lebih dikenal sekarang, maka ketiga komponen kemerdekaan itu ialah self-reliance, independence, dan self-determination. Sukarno lebih menekankan independence, yaitu terlepasnya Indonesia dari penguasaan oleh suatu bangsa dan penguasaan asing. Hatta dan Syahrir lebih menekankan self-reliance yaitu otonomi setiap individu dalam memutuskan apa yang harus dikerjakan. Tan Malaka selepas sekolah guru di Harlem, Belanda, memilih menjadi guru untuk anak- anak para kuli kontrak di perkebunan Deli, melihat kemerdekaan sebagai self-determination, yaitu kesanggupan setiap kelompok sosial menentukan nasibnya sendiri dan tidak menggantungkan peruntungannya pada kelompok sosial lainnya. Perbedaan tekanan itu menjadi lebih jelas kalau dilihat dari hubungan dengan apa yang hendak ditentang. 

Kemerdekaan sebagai independence secara telak menolak penjajahan. Kemerdekaan sebagai self-reliance membatalkan ketergantugan. Sedangkan kemerdekaan sebagai self-determination menampik segala jenis penindasan dan pembodohan. Saya sering membayangkan bahwa ada saja kemungkinan gerakan mahasiswa terperangkap dalam politik abu-abu I grey area yang di pasang negara maupun penguasa modal, dengan jalan memberikan  respon-respon gerakan yang bisa tidak menyentuh substansi perubahan, yaitu mewujudkan bentuk demokrasi nasional yang akan meluas menjadi revolusi nasional. Semisal saja tentang kebijakan pemerintah di bidang perburuhan, hanya rnampu meciptakan diskursus dan gerakan normatif. Sementra untuk perubahan kesejahteraan tidak pemah terwujud. Begitu pula tentang berbagai isu tentang HAM, separatisme, terorisme, amandemen, dll, seolah mengajak kita untuk terus-menerus berskap reaksioner dan mudah terprovokasi.

Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...