Langsung ke konten utama

Kudatuli sebagai Cermin Retak Demokrasi: Refleksi Progresif Melawan Reaksioner

Sejarah bangsa ini tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan gema, luka, dan pertanyaan yang terus menuntut keberanian untuk dijawab. Kudatuli bukan sekadar catatan tanggal dalam buku sejarah, melainkan simbol retaknya demokrasi ketika kekuasaan merasa terancam oleh suara rakyatnya sendiri. Dari peristiwa itu, kita belajar bahwa demokrasi tidak selalu tumbuh di ruang yang steril, ia sering lahir dari benturan, represi, dan keberanian untuk bertahan.

Hendrianus J. Pahur , merasa pilu mendengar
pristiwa kudatuli yang mengkambing 
hitamkan mahasiswa. 


Bagi mahasiswa, Kudatuli bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi cermin kritis bagi kesadaran hari ini. Apakah kita akan menjadi generasi yang sekadar menghafal sejarah, atau generasi yang menafsirkannya sebagai panggilan untuk berpihak pada keadilan? Di tengah kecenderungan politik elitis dan reaksi kekuasaan yang membungkam, refleksi atas Kudatuli menjadi relevan sebagai ruang pembentukan sikap: progresif, kritis, dan revolusioner dalam arti memperjuangkan perubahan yang lebih manusiawi.

Dari titik inilah pembahasan dimulai bukan untuk mengulang luka, tetapi untuk membaca maknanya bagi perjuangan demokrasi yang lebih substantif.Peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) di kantor Partai Demokrasi Indonesia bukan sekadar konflik internal partai. Ia adalah cermin bagaimana kekuasaan yang reaksioner dan elitis berusaha membungkam suara rakyat. Ketika aspirasi politik yang sah diserang, ketika ruang demokrasi direbut dengan kekerasan, saat itulah nurani sejarah dipertaruhkan.

Mahasiswa progresif tidak boleh netral terhadap ketidakadilan. Netralitas di tengah penindasan adalah keberpihakan pada penindas. Kita belajar bahwa dominasi kekuasaan di era Suharto menunjukkan bagaimana oligarki politik bisa menyingkirkan kepemimpinan yang lahir dari arus bawah, seperti yang terjadi pada kubu Megawati Soekarnoputri saat itu. Demokrasi direduksi menjadi formalitas, sementara rakyat hanya dijadikan objek.

Sikap progresif berarti berani membaca sejarah secara kritis. Revolusioner bukan berarti anarkis, melainkan konsisten memperjuangkan perubahan struktural:

  • Melawan politik elitis yang tertutup dan manipulatif.
  • Menolak represi terhadap kebebasan berserikat dan berpendapat.
  • Membangun solidaritas lintas gerakan rakyat.

Reaksioner elitis selalu takut pada kesadaran kolektif. Karena itu mahasiswa harus menjadi motor pencerdasan, bukan alat propaganda. Kampus bukan menara gading, tetapi ruang pembebasan. Intelektualitas harus berpihak pada kebenaran dan keadilan sosial.

Kita tidak menghidupkan kembali luka sejarah untuk membalas dendam, tetapi untuk memastikan kekerasan politik tidak terulang. Refleksi ini mengingatkan bahwa demokrasi tidak lahir dari diam, tetapi dari keberanian berpikir, bersuara, dan bertindak.

Mahasiswa progresif adalah mereka yang setia pada nurani rakyat—bukan pada kepentingan elitis yang reaksioner.

Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...