Manusia adalah mahkluk yang berkehendak tetapi manusi bisa menghendaki, untuk memilih dan memutuskan. Bagaimana manusia bisa menghendaki?. Manusia dapat menghendaki ketika dia biasa mengerti apa yang harus dia kehendaki, dari rasa mengerti dia biasa memilih dan memutuskan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kebebasan dimengerti sebagai terlepas dari tekanan atau paksaan.
Maurice Blondel (1861-1949), yang membicarakan batas kebebasan. ketika berbicara kebebasan ia membuat perbedaan yang tegas antara volentè voulante dan volentè voulue. volente voulante adalah kehendak yang menghendaki terus sedangkan volentè voulue adalah kehendak yang mencapai apa yang dikehendakinya.
Kehendak yang menghendaki terus adalah kehendak manusia menurut bentuknya paling mendasar. Kehendak ini terarah pada apa yang memenuhi keinginan manusia secara tota dan defenitif. Sedangkan kehendak yang menghendaki adalah kehendakbempiris yang terarah pada obejek-objek konkret. Kehendak yang terakhir ini dibatasi oleh keterbatasan objek-objek. Dalam kondisis seperti ini orang memilih A atau B namun melampauinya karena dalam diri manusia ada kehendak bebas yang menghendaki terus. Hanya manusia yang sungguh bebaslah yang memiliki kesadaran akan penentuan tindakan-tindakan bebasnya.
Pembedaan yang dikemukakan Blondel membantu kita memahami kompleksitas kebebasan manusia. Pembedaan ini membantu kita melihat bahwa kebebasan bukan sekadar tentang membuat pilihan, tetapi juga tentang hasrat mendasar yang mendorong pilihan tersebut.
Gagasan tentang kemauan yang menghendaki dapat menjadi inspirasi. Gagasan ini mengingatkan kita bahwa kita bukan sekadar makhluk yang mengandalkan naluri dan kebiasaan, tetapi kita memiliki potensi untuk menciptakan takdir kita sendiri .
Akan tetapi, penting untuk dicatat bahwa gagasan Blondel bukannya tanpa kritik. Sebagian berpendapat bahwa keinginan yang menghendaki terlalu abstrak dan tidak memperhitungkan realitas konkret pengalaman manusia. Sebagian lain berpendapat bahwa keinginan itu terlalu idealis dan mengabaikan keterbatasan kodrat manusia.
Pada akhirnya, terlepas dari apakah kita setuju atau tidak dengan gagasan Blondel, gagasan tersebut menawarkan titik awal yang berharga untuk memikirkan hakikat kebebasan. Dengan melibatkan pemikirannya, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri dan tempat kita di dunia.
Contoh"volentè voulue" dalam kehidupan sehari-hari.
Ingin membeli baju baru, ingin pergi ke pantai
Ingin menyelesaikan tugas, volente voulue" adalah keinginan yang terarah pada objek atau tujuan konkret. Ini adalah keinginan yang dapat diidentifikasi dan dipenuhi dalam dunia nyata. Berikutnya contoh volentè voulante
Keinginan untuk belajar dan berkembang, keinginan untuk membantu orang lain, keinginan untuk menemukan makna hidup. Gagasa ini lebih abstrak dan tidak terikat pada objek tertentu. Mereka mewakili dorongan dasar manusia untuk berkembang, bermakna, dan terhubung dengan dunia di sekitarnya.
Penting untuk diingat bahwa volentè voulante adalah konsep filosofis yang tidak selalu mudah ditangkap dalam contoh konkret. Pemikiran Blondel mengingatkan kita akan batasan-batasan kebebasan kita dalam kehidupan setiap hari. Dalam menemukan kebebasan hidup tanpa tekanan fisik, psikis, dan diskriminasi. Pemikiranya mengingatkan kita akan akan realita kehidupan yang sedang berperang antara keinginan dan kebutuhan volentè voulue membawa kita untuk mengerti apa yang kita harus putuskan untuk memilih. Pada dasarnya jangan mudah tergiur dengan segala sesuatu. Volentè voulante memngingatkan kita agar penting mengenal diri dan lingkungan sekitar agar kita mampu mendalami makna kehidupan dalam menjalanman hidup yang terasa singkat. Jangan sampai tubuh terlihat kekar namun rapuh.
Dalam tulisan ini banyak keterbatasan dan penulisan ini berdasarkan kajian pustakan denga n buku.
Pandor Pius. (2014). Seni Merawat Jiwa: Tinjauan Filosofis. Jakarta, Penerbit Obor.
