Demi mencapai garis finis, seorang pelari maraton memperkuras semua tenaganya demi menempatkan posisi paling depan. Dan bisa membawa kemenangan. Tetapi itu bukan hal yang mudah baginya dia berlatih begitu lama agar dia bisa menjadi orang yang terdepan dalam perlombaan ini.
Begitu pula dalam lingkup akademik menanam rasa kegigihan dalam diri untuk meraih kesuksesan tidaklah muda, tentu sangat diperlukan untuk meni gkatkan giat belajar yang tinggi. Banyak problem yang dilalui, salah satunya adalah rasa malas. Kemalasan ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal : sering merasa bosan, merasa puas dengan pencapaian, tidak mau berusaha dan lain-lain.
Faktor eksternal: pergaulan bebas, terlalu sering menggunakan media sosial (handpone) dan lain-lain.
kegigihan untuk mencapai kesuksesan itu perlu dilatih dengan sepenuh hati.
Dalam dunia akademik sekarang mahasiswa dihantui oleh rasa kemalasan. Kemalasan ini sebagai penghalang seseorang untuk mencapai sesuatu. Keseringan berada dalam zona nyaman memungkinkan mahasiswa lebih memilih untuk memupuk kemalasanya.
Seorang mahasiswa pendidikan Teologi Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng berinisial R.J, menurutnya rasa malas dikarenakan terlalu sering bermain handpone (HP), terlalu bergadang sampai larut malam. "Saya melihat proses belajar mahasiswa yang dulu dengan sekarang sangatlah berbeda dulu mahasiswa sering membaca dan kurang berinteraksi dengan media sosial", ujarnya.
Baginya HP ini adalah salah satu faktor yang membuatnya selalu malas dalam mengerjakan tugas perkuliahan dan kurang berinteraksi dengan manusia lain.
St. Thomas Aquinas (1225-1274) mendefinisikan kemalasan sebagai kelambanan pikiran yang menghalangi seseorang untuk berbuat baik. Ia menganggap kemalasan sebagai dosa yang jahat dan membatasi seseorang untuk mencapai kehendak Allah.
Kemudian St. Thomas Aquinas menyatakan bahwa kemalasan adalah dosa karena kesusahan hati tersebut menghalangi seseorang untuk berbuat baik; baik kemalasan itu sendiri maupun dampak yang ditimbulkannya adalah jahat.
Kelambanan berpikir yang disampaikan St. Tomas Aquinas ini dikarenakan kurangnya perjuangan mahasiswa untuk menekan rasa malas. Dia juga menyatakan bahwa kemalasan juga bisa memicu terjadinya tindakan kejahatan terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.
Mahasiswa berinisial R. J mengklaim bahwa handpone adalah satu rayuan maut sehingga membatasi kegiatan akademiknya. Kemalasan ini dapat kita hindari dengan mengurangi bermain HP, melakukan kegiatan yang menurut kamu suka misalnya berolah raga, berdiskusi, dan batasi pergaulan yang bebas. Dengan mempropagandakan tindakan ini tentu akan mendapatkan dampak yang sangat signifikan.