Langsung ke konten utama

BBM "Negara Yang Absen"

Di Ruteng, ketika fajar masih menggantung di pucuk bukit Golo Dukal dan embun belum sempat jatuh ke tanah, barisan motor sudah berdiri berjajar. Orang-orang berkumpul seperti jamaah doa pagi bukan untuk memohon keselamatan, tetapi berharap satu hal sederhana "BBM datang hari ini".
Di wajah-wajah itu ada harap yang rapuh, seperti lilin kecil yang nyalanya bisa padam oleh angin alasan yang selalu sama: truk terlambat, jalur rusak, kapal belum tiba.
Di tanah yang subur ini, kelangkaan BBM telah menjadi semacam ritual pahit yang terus berulang. Ia bukan lagi kejadian darurat; ia telah menjelma menjadi denyut kehidupan sehari-hari. Setiap antrean adalah puisi muram yang ditulis rakyat, dengan jerigen sebagai titik komanya.

Padahal undang-undang berbicara keras lebih keras dari suara klakson di depan SPBU.
UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi memerintahkan negara untuk menjamin ketersediaan energi bagi rakyat, adil, merata, dan pasti. Dalam UU Administrasi Pemerintahan, kewajiban negara bahkan lebih jelas: transparan, akuntabel, efektif. Apakah masih pantas disebut negara yang adil.

Tetapi di Manggarai, hukum seolah kehilangan kaki untuk berjalan. Ia tertinggal di rak kantor pemerintah, sementara rakyat berdiri di jalan berjam-jam, dalam panas dan debu, menunggu sesuatu yang seharusnya sederhana: kehadiran negara. 

Media telah mencoba memberi nama pada luka ini. WartaTimor menulis tentang distribusi yang tersendat karena perbaikan jalan, seolah jalan rusak adalah satu-satunya biang keladi dari antrean panjang itu (WartaTimor). Namun, kenyataan tidak pernah sesederhana alasan resmi. Floresa menampilkan gambar yang lebih telanjang: SPBU yang kehabisan stok, antrean yang mengular, dan warga yang harus membayar hampir dua kali lipat hanya untuk satu liter BBM (Floresa). Detik menggambarkan antrean dua kilometer di Ruteng, seperti barisan manusia yang menunggu keputusan takdir (Detik). NetralNews bahkan mencatat harga Pertalite eceran mencapai Rp50.000 per liter harga yang mengiris perut rakyat kecil (NetralNews). 

Dan ketika masyarakat tak lagi mampu menahan beban, LPPDM menggedor pemerintah daerah: krisis BBM telah melumpuhkan ekonomi masyarakat Manggarai (SelidikKasus).

Apa yang lebih menyakitkan dari semua itu? Bukan cuma kelangkaannya.....!!! Bukan hanya antreannya......!!! Tetapi hilangnya pengawasan, kaburnya distribusi, dan diamnya lembaga yang seharusnya melindungi rakyat.

BBM......bukan sekadar cairan yang mengalir ke tangki motor. Ia adalah denyut ekonomi kecil-kecilan!! petani yang harus mengolah sawah, sopir yang mencari nafkah harian, pedagang yang melaju ke pasar, pelajar yang harus tiba tepat waktu di sekolah. Ketika distribusi BBM carut-marut, kehidupan mereka ikut retak. Dan retak itu, lambat laun, berubah menjadi jurang antara rakyat dan negara.

Di titik inilah, poster kuning ini berbicara satu kata LAWAN....!!!

Poster mengguncang dengan satu kata LAWAN....!!!
Pilu Negara yang absen.

Tinju merah yang mengepal bukan ajakan untuk huru-hara.
Ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakjelasan data distribusi, pengawasan yang longgar, permainan harga yang menghimpit, dan jawaban-jawaban yang tak pernah berubah.

Perlawanan yang dimaksud adalah perlawanan moral, perlawanan rakyat yang lelah menjadi korban sistem yang tidak transparan. Perlawanan warga yang menuntut negara menjalankan amanat UU. Perlawanan terhadap keadaan yang dibiarkan berulang, tahun demi tahun.

Di Manggarai, kelangkaan BBM telah menjadi cermin. Dan apa yang kita lihat di sana bukan sekadar antrean. Kita melihat ketidakhadiran negara. Kita melihat hukum yang tidak bergerak. Kita melihat rasa adil yang menunggu untuk diperjuangkan kembali.

Dan selama pemerintah hanya memberi jawaban, bukan perubahan, selama distribusi hanya dijelaskan, bukan dibenahi, selama rakyat terus menanggung beban, maka poster iini akan tetap bersuara keras "LAWAN"

Bukan melawan pemerintah, tetapi melawan ketidakpastian, melawan ketidakadilan, melawan kelalaian yang menahunSampai suatu hari, SPBU tidak lagi menjadi tempat orang mempertaruhkan harapan, tetapi tempat mereka mendapatkan hak yang dijamin undang-undang.

Daftar Pustaka

WartaTimor. Distribusi Tersendat Akibat Perbaikan Jalan… https://www.wartatimor.com/umum/93116320966/distribusi-tersendat-akibat-perbaikan-jalan-pertamina-patra-niaga-pastikan-pasokan-bbm-di-manggarai-tetap-aman
Floresa. Aktivitas Harian Warga Terganggu… https://floresa.co/reportase/peristiwa/81770/2025/11/26/aktivitas-harian-warga-terganggu-imbas-kelangkaan-bbm-di-manggarai
Detik. Lagi-lagi Terjadi Kelangkaan BBM di Manggarai. https://www.detik.com/bali/nusra/d-8229835/lagi-lagi-terjadi-kelangkaan-bbm-di-manggarai
NetralNews. Pertalite Tembus Rp50.000… https://www.netralnews.com/pertalite-tembus-harga-rp50000-di-manggarai-ntt-imbas-krisis-bbm/NDN1aGpJY2JlSDFGUGVTd09JTEZKdz09
SelidikKasus. LPPDM Desak Pemkab Manggarai Raya… https://selidikkasus.com/2025/11/26/lppdm-desak-pemkab-manggarai-raya-siaga-atasi-krisis-bbm-yang-lumpuhkan-ekonomi-masyarakat

Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...