Tetapi di Manggarai, hukum seolah kehilangan kaki untuk berjalan. Ia tertinggal di rak kantor pemerintah, sementara rakyat berdiri di jalan berjam-jam, dalam panas dan debu, menunggu sesuatu yang seharusnya sederhana: kehadiran negara.
Media telah mencoba memberi nama pada luka ini. WartaTimor menulis tentang distribusi yang tersendat karena perbaikan jalan, seolah jalan rusak adalah satu-satunya biang keladi dari antrean panjang itu (WartaTimor). Namun, kenyataan tidak pernah sesederhana alasan resmi. Floresa menampilkan gambar yang lebih telanjang: SPBU yang kehabisan stok, antrean yang mengular, dan warga yang harus membayar hampir dua kali lipat hanya untuk satu liter BBM (Floresa). Detik menggambarkan antrean dua kilometer di Ruteng, seperti barisan manusia yang menunggu keputusan takdir (Detik). NetralNews bahkan mencatat harga Pertalite eceran mencapai Rp50.000 per liter harga yang mengiris perut rakyat kecil (NetralNews).
Dan ketika masyarakat tak lagi mampu menahan beban, LPPDM menggedor pemerintah daerah: krisis BBM telah melumpuhkan ekonomi masyarakat Manggarai (SelidikKasus).
Apa yang lebih menyakitkan dari semua itu? Bukan cuma kelangkaannya.....!!! Bukan hanya antreannya......!!! Tetapi hilangnya pengawasan, kaburnya distribusi, dan diamnya lembaga yang seharusnya melindungi rakyat.
Di titik inilah, poster kuning ini berbicara satu kata LAWAN....!!!
| Poster mengguncang dengan satu kata LAWAN....!!! Pilu Negara yang absen. |
Perlawanan yang dimaksud adalah perlawanan moral, perlawanan rakyat yang lelah menjadi korban sistem yang tidak transparan. Perlawanan warga yang menuntut negara menjalankan amanat UU. Perlawanan terhadap keadaan yang dibiarkan berulang, tahun demi tahun.
Di Manggarai, kelangkaan BBM telah menjadi cermin. Dan apa yang kita lihat di sana bukan sekadar antrean. Kita melihat ketidakhadiran negara. Kita melihat hukum yang tidak bergerak. Kita melihat rasa adil yang menunggu untuk diperjuangkan kembali.
Dan selama pemerintah hanya memberi jawaban, bukan perubahan, selama distribusi hanya dijelaskan, bukan dibenahi, selama rakyat terus menanggung beban, maka poster iini akan tetap bersuara keras "LAWAN"
Bukan melawan pemerintah, tetapi melawan ketidakpastian, melawan ketidakadilan, melawan kelalaian yang menahun. Sampai suatu hari, SPBU tidak lagi menjadi tempat orang mempertaruhkan harapan, tetapi tempat mereka mendapatkan hak yang dijamin undang-undang.
Daftar Pustaka
WartaTimor. Distribusi Tersendat Akibat Perbaikan Jalan… https://www.wartatimor.com/umum/93116320966/distribusi-tersendat-akibat-perbaikan-jalan-pertamina-patra-niaga-pastikan-pasokan-bbm-di-manggarai-tetap-aman
Floresa. Aktivitas Harian Warga Terganggu… https://floresa.co/reportase/peristiwa/81770/2025/11/26/aktivitas-harian-warga-terganggu-imbas-kelangkaan-bbm-di-manggarai
Detik. Lagi-lagi Terjadi Kelangkaan BBM di Manggarai. https://www.detik.com/bali/nusra/d-8229835/lagi-lagi-terjadi-kelangkaan-bbm-di-manggarai
NetralNews. Pertalite Tembus Rp50.000… https://www.netralnews.com/pertalite-tembus-harga-rp50000-di-manggarai-ntt-imbas-krisis-bbm/NDN1aGpJY2JlSDFGUGVTd09JTEZKdz09
SelidikKasus. LPPDM Desak Pemkab Manggarai Raya… https://selidikkasus.com/2025/11/26/lppdm-desak-pemkab-manggarai-raya-siaga-atasi-krisis-bbm-yang-lumpuhkan-ekonomi-masyarakat