Globalisasi adalah arus besar yang tak bisa dihindari. Ia datang seperti badai:mengguncang, menantang, tetapi juga membuka peluang baru. Di tengah pusaran itu, akum elihat pemuda bukan sekadar penonton sejarah, melainkan obor yang menyalakan jalanp erubahan. Dalam derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, generasi muda hari ini dituntutb ukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kreatif, adaptif, dan berani berpikir kritis.P emuda merupakan aset berharga bagi setiap negara dan memiliki peran vital dalamp embangunan sosial serta inovasi. Dengan semangat, kreativitas, dan energi yang dimiliki,pemuda berpotensi menjadi agen perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Sebagai generasi yangmood memiliki energi, kreativitas, dan pikiran terbuka, pemuda menjadi motor penggerak perubahan dalam Masyarakat (Meng et al., 2023). Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apa artinya menjadi pemuda di abad ke-21?J awabannya ternyata lebih dari sekadar usia muda dan tenaga kuat. Menjadi pemuda berartib erani bermimpi ketika orang lain ragu, berani melangkah ketika yang lain berhenti. Berdasarkan laporan United Nations Development Programme (UNDP, 2024), lebih dari 40% pemuda di negara berkembang menghadapi risiko pengangguran dan keterbatasan akses terhadap pendidikan bermutu. Di Indonesia sendiri, data BPS (2024) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di kalangan pemuda mencapai 14,26%, sebagian besar disebabkan oleh ketidaksesuaian antara keterampilan dan kebutuhan industri. Fakta ini menegaskan pentingnya peran inovasi dan kreativitas dalam mengubah tantangan ekonomi dan sosial menjadi peluang produktif bagi generasi muda.
| Dokumentasi, data peningkatan pemgangguran diindonesia ditingkat Asean. |
Banyak pemuda menghadapi tantangan dalam bentuk kesenjangan keterampilan dank urangnya pengalaman praktis yang dibutuhkan di dunia kerja atau dalam menginisiasi proyekproyek sosial. Pendidikan formal seringkali tidak sepenuhnya mempersiapkan mereka untuk menghadapi kompleksitas tantangan dunia nyata. Di sisi lain, hal ini membuka peluang besar untuk pengembangan program-program pelatihan keterampilan, magang, dan mentoring yang dapat menjembatani kesenjangan ini. Kolaborasi antara institusi pendidikan, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil dapat menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan pemuda dan pasar kerja (Lepeley, 2020). Di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, pemuda didefinisikan sebagai warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan, berusia antara 16 sampai 30 tahun. Rentang usia ini dianggap sebagai masa transisi dari anakanak menuju dewasa, di mana individu mengalami perkembangan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan (Nordberg et al., 2020).
Bagi saya, revolusi kreatif bukan hanya tentang menciptakan teknologi baru atau mendirikan start-up. Lebih dari itu, ia adalah revolusi cara berpikir pergeseran dari ketergantungan menuju kemandirian, dari pasif menjadi solutif. Inovasi lahir ketika keberanian bertemu dengan empati. Lihat saja para pemuda di berbagai pelosok Indonesia yang menggunakan media sosial untuk kampanye lingkungan, menciptakan produk lokal berkelanjutan, atau mendirikan komunitas literasi. Mereka membuktikan bahwa kreativitas bukan milik kota besar saja, tetapi bisa tumbuh di setiap sudut desa yang menyimpan harapan. Namun, di balik semangat itu, ada tantangan yang tak kecil. Banyak pemuda masih merasa suaranya tidak didengar, idenya tidak diakui, atau langkahnya dibatasi oleh birokrasi yang kaku. Dalam situasi seperti ini, aku percaya perubahan tidak bisa hanya menunggu dari atas. Ia harus dimulai dari bawah dari gerakan kecil, dari keberanian satu orang untuk memulai sesuatu yang berbeda.
Kreativitas dan kolaborasi menjadi kunci. Di era digital, kita hidup dalam ruang tanpa batas. Gagasan kecil yang lahir di Manggarai bisa menginspirasi dunia jika disampaikan dengan semangat dan visi yang benar. Inilah kekuatan pemuda: kecepatan, jaringan, dan idealisme. Tapi idealisme itu harus dibarengi tanggung jawab moral kesadaran bahwa setiap inovasi mesti berakar pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
| Lamaran ditolah air mata tak terbendung. |
Sebagai seorang muda, aku belajar bahwa perubahan tidak selalu datang dengan gegap gempita. Kadang, ia lahir dari langkah kecil misalnya mengajar anak-anak di desa, menanam pohon di halaman, atau berbicara jujur tentang nilai-nilai kemanusiaan. Di situlah revolusi sejati bermula dari hati yang peduli dan tangan yang mau bergerak. Tidak hanya itu pemuda juga haru berani bergabung dalam tiap komunitas-komunitas yang bisa menginspirasi untuk semua masyarakat. Di manggarai contohnya pemuda mampu meningkatkan Ekonomi Pertahanan Negara Melalui Implementasi Nilai-Nilai Luhur Dalam Lagu Pop Daerah di Kabupaten Manggarai dan pemuda harus mampu bergabung dengan komunitas tenun “songke Manggarai Flores NTT”. Globalisasi boleh membawa badai, tetapi pemuda adalah lentera yang tidak padam. Selama kita terus berpikir kreatif, bekerja bersama, menjaga semangat kemanusiaan dan mampu menyesuaikan diri, tidak ada tantangan yang terlalu besar. Kita tidak hanya mewarisi dunia ini, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk memperbaikinya. Maka, marilah kita terus menyalakan lentera perubahan dengan ide, keberanian, dan cinta yang sederhana, tetapi tak pernah padam. Revolusi kreatif pemuda merupakan bentuk nyata dari adaptasi terhadap perubahan global. Melalui inovasi, kreativitas, dan kepemimpinan sosial, pemuda mampu mengubah berbagai tantangan menjadi peluang pembangunan yang berkelanjutan. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta diharapkan memberi dukungan konkret berupa pendidikan kewirausahaan, pelatihan digital, serta ruang ekspresi bagi ide-ide kreatif pemuda. Dengan semangat revolusi kreatif, pemuda Manggarai NTT hari ini bukan hanya pewaris perjuangan, tetapi pelaku sejarah baru yang mengubah keterbatasan menjadi masa depan penuh harapan. Demikian, pemuda bukan hanya penerus bangsa, tetapi juga pencipta masa depan yang lebih baik. Dengan investasi yang tepat dalam pemberdayaan pemuda, kita dapat memastikan bahwa generasi muda tidak hanya siap menghadapi tantangan masa depan, tetapi juga aktif berkontribusi dalam membentuk masyarakat yang lebih adil, inovatif, dan berkelanjutan. Kontribusi pemuda dalam pembangunan sosial dan inovasi bukan hanya tentang mempersiapkan mereka untuk masa depan, tetapi juga tentang memanfaatkan potensi mereka untuk menciptakan perubahan positif sekarang.
Referensi:
Andira, A., & Handayani, S. C. (2023). Pemuda dan inovasi di era disrupsi. InternationalJournal of Students Education, 2(1).https://journal.berpusi.co.id/index.php/IJoSE/article/view/321
Alzate, P., Mejía-Giraldo, J. F., Jurado, I., Hernandez, S., & Novozhenina, A. (2024).Perspektif penelitian tentang kewirausahaan sosial pemuda: Strategi, ekonomi, daninovasi. Journal of Innovation and Entrepreneurship. https://innovationentrepreneurship.springeropen.com/articles/10.1186/s13731-024-00410-7
Arifin, A. L., Nugroho, J., & Warcito, W. (2023). Ikhtiar: Mendorong kewirausahaan pemuda melalui pemberdayaan student ventures. Majalah Ilmiah Bijak, 21(2). https://ojs.stiami.ac.id/index.php/bijak/article/view/4177
Hanggu, Elisabet Oktaviani, dan Odilia Jayanti Mahu. "Peningkatan Ekonomi Pertahanan Negara Melalui Implementasi Nilai-Nilai Luhur Dalam Lagu Pop Daerah di Kabupaten Manggarai (Kajian Implikatur)." Jurnal Inovasi Penelitian 2.9 (2022): 2917-2926.
HARYATNO, Yulius Rudi. Kaum Muda dan Industri Kreatif Kriya Tenun “Songke” Manggarai-Flores, NTT. Jurnal Kewirausahaan Bukit Pengharapan, 2023, 3.1: 22-29.
Lepeley, M. (2020). Human centered management: 5 pillars of organizational quality and global sustainability. taylorfrancis.com. https://doi.org/10.4324/9781003080169UNDP. (2024). Laporan pemberdayaan dan inovasi pemuda: Membangun pemimpin masa depan. United Nations Development Programme. https://www.undp.org/youthBadan Pusat Statistik. (2024). Keadaan angkatan kerja pemuda Indonesia. Jakarta: BPS RI.
Andira, A., & Handayani, S. C. (2023). Pemuda dan inovasi di era disrupsi. Internation Journal of Students Education, 2(1). https://journal.berpusi.co.id/index.php/IJoSE/article/view/321 Nordberg, K., Mariussen, Å., & Virkkala, S. (2020). Community-driven social innovation and quadruple helix coordination in rural development. Case study on LEADER group Aktion Österbotten. Journal of Rural Studies, Query date: 2024-11-09 13:55:55.https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0743016719315670