Langsung ke konten utama

Antara Napas dan Jejak

Jiwa yang membadankan, badan yang menjiwa adalah cara Tuhan menghadirkan manusia sebagai makhluk yang tidak hanya berpikir tentang dunia, tetapi juga merasakan denyut luka dan harapan dunia itu sendiri.


Objek visual penuh makna mendalam .

Ketika jiwa membadankan, ia turun dari awan ide ke tanah tempat kita berpijak menjadi keberanian yang bersuara, menjadi kasih yang bekerja, menjadi iman yang menjelma tindakan.

Ketika badan menjiwa, ia tidak sekadar menjadi daging yang lelah oleh hari-hari,
tetapi menjadi bait kehidupan, tempat kehadiran Allah mengalir melalui langkah, peluh, dan perjuangan. Di sanalah manusia menemukan martabatnya, diciptakan dari tanah, namun ditiupkan napas Ilahi; dekat dengan bumi, namun tertarik ke langit; membela sesama, namun sekaligus memuliakan Sang Pencipta.

Dan dalam perjuangan merawat kehidupan entah menjaga hutan, menolak ketidakadilan, atau mempertahankan tanah leluhur jiwa dan badan bersaksi bersama, bahwa iman bukan sekadar kata-kata, melainkan keberanian untuk berdiri di pihak kehidupan. Jiwa yang membadankan, badan yang menjiwa itulah manusia yang diharapkan Gereja, yang cintanya bertanah, dan imannya berwujud dalam tindakan yang menyembuhkan dunia.

kita belajar bahwa manusia tidak hidup sendirian di dalam dirinya. Ia selalu ditarik keluar, ke jalan-jalan yang penuh cerita, tentang antrean panjang orang kecil, tentang suara-suara yang tak didengar, tentang tanah yang dipertaruhkan, tentang harapan yang kadang terasa terlalu mahal. Di tengah situasi sosial yang sering timpang, kita melihat bagaimana kehidupan bisa menjadi rapuh: ketika kebijakan lahir tanpa mendengar suara akar rumput, ketika pembangunan mengabaikan rumah orang kecil, ketika yang kuat terus mendahului, dan yang lemah harus menunggu tanpa kepastian.

Namun justru di sanalah “yang tak terlihat” dalam diri manusia bekerja, suara hati yang menolak diam, belas kasih yang menolak tunduk pada ketidakadilan, keberanian yang muncul dari kesadaran bahwa hidup bersama menuntut tanggung jawab bersama. Manusia, dalam segala keutuhannya, dipanggil untuk hadir bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk dunia yang sedang berjuang mencari keseimbangan. Ketika seseorang berdiri membela yang terpinggirkan, ketika masyarakat menolak dilenyapkan dari tanahnya, ketika kaum kecil memperjuangkan hak atas hidup yang layak, di sana perjumpaan antara yang dalam dan yang nyata menjadi kesaksian yang sungguh hidup.

Dan mungkin, di zaman yang gelisah ini, kehadiran seperti itulah yang paling dibutuhkan, kehadiran yang tidak hanya melihat, tetapi juga merasa; yang tidak hanya tahu, tetapi juga bergerak; yang tidak hanya berharap, tetapi juga menyembuhkan. Sebab dunia sosial kita tidak hanya butuh solusi, ia butuh manusia yang utuh yang kedalamannya menggerakkan tindakan, dan tindakannya memancarkan kedalaman.

pahur.


Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...