Langsung ke konten utama

Wajah Yesus di Layar "Brian Deacon" dan Kontroversinya.

Gambar, Wajah Brian Deacon, pada saat berperan
sebagai actor Yesus dalam video "The Jesus  film". 


Film Jesus (1979) karya John Heyman merupakan salah satu film religius paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan modern. Dengan distribusi ke lebih dari 2000 bahasa, film ini telah digunakan dalam misi Kristen di berbagai negara. Namun, figur Brian Deacon sebagai Yesus menjadi sorotan tersendiri. Banyak orang melihatnya sebagai ikon Yesus, sementara sebagian kritikus menilai gambaran itu terlalu lembut dan kurang mencerminkan Yesus historis. Bahkan The Christian Century menulis bahwa film ini “menekankan kemanusiaan Yesus tanpa mengurangi keilahian-Nya, bahkan dengan menjaga kata-kata teks Injil” (Dart, 2001), tetapi tetap dianggap terlalu rapi dalam menggambarkan manusiawi Yesus.

Brian Deacon: Ketika Kesederhanaan Dianggap sebagai Kesucian. Brian Deacon dipilih dari ribuan aktor yang mengikuti audisi. Ia sendiri mengakui bahwa memerankan Yesus membawa konsekuensi serius bagi kariernya. Dalam wawancaranya, seorang kolega berkata kepadanya: “It is going to be very difficult to persuade people to cast you in other roles, because you’ve now played Jesus… people will find it difficult to think of you for instance, playing a villain or a lover"Akan sangat sulit untuk membujuk orang untuk memilihkan peran lain, karena sekarang Anda telah memainkan peran Yesus... orang akan sulit membayangkan Anda, misalnya, memainkan peran penjahat atau kekasih"(Hope1032, 2016). Kutipan ini menunjukkan bahwa Deacon sadar bahwa memerankan figur paling penting dalam Kristen bukan hanya peran akting, melainkan identitas yang akan terus melekat. Ia bahkan mengakui bahwa proses syuting mengguncang spiritualitasnya: “I think I probably got as close to being a true believer making that film as I ever have done… There were times when emotionally I felt pretty raw.”saya rasa saya mungkin sudah mendekati tingkat keyakinan sejati dalam pembuatan film itu seperti yang pernah saya lakukan sebelumnya....ada saat-saat ketika secara emosional saya merasa sangat rapuh" (Hope1032, 2016)."Pernyataan ini penting, karena memperlihatkan bahwa film ini tidak hanya mempengaruhi penonton, tetapi juga aktornya sendiri.

Karakter Yesus versi Deacon dikenal sangat tenang, lembut, dan stabil. Banyak dialog diambil langsung dari Injil Lukas, sesuai komitmen sutradara untuk kesetiaan literal pada teks. Namun, sejumlah kritikus menilai bahwa gambaran ini terlalu bersih. The Christian Century menulis bahwa film ini berhasil menjaga keilahian Yesus (Dart, 2001), tetapi di sisi lain justru menyederhanakan kompleksitas emosinya. Kalangan Katolik menyoroti bahwa film ini tidak memunculkan sisi tegas Yesus: terutama saat Ia marah mengusir pedagang dari Bait Allah (Mat 21:12), menangis ketika Lazarus wafat (Yoh 11:35), atau sangat gelisah menjelang sengsara (Mat 26:38). Sisi manusiawi yang penuh konflik batin ini tidak tampak kuat dalam interpretasi Deacon. Dengan demikian, representasi Yesus dalam film ini menjadi pertanyaan teologis: apakah kesederhanaan itu merupakan bentuk penghormatan, ataukah reduksi terhadap kedalaman Yesus?

Kontroversi di Kalangan Kristen dan Katolik. Apakah wajah Deacon menjadi dogma baru? Sebagian kelompok Kristen khawatir bahwa wajah Brian Deacon akan dianggap sebagai wajah Yesus historis. The Christian Chronicle mengingatkan: “The real Jesus is not found in any man-made image… He is found only in the Gospels.” "Yesus yang sejati tidak ditemukan dalam gambar buatan manusia mana pun… Dia hanya ditemukan dalam Injil.” (Poling, 2014)". Kekhawatiran ini muncul karena distribusi film yang sangat luas, sehingga citra Yesus versi Deacon menjadi “definitif” bagi jutaan orang.

Di kalangan Katolik, kontroversi lebih teologis. Film ini dinilai kurang menampilkan pergulatan batin Yesus sebagaimana Injil menyaksikan: Yesus marah (Mat 21:12), menangis (Yoh 11:35), dan sangat sedih seperti mau mati (Mat 26:38). Perbedaan itu membuat Yesus versi Deacon tampak kurang menunjukkan kedalaman emosi manusiawi, padahal justru kemanusiaan Yesus adalah inti Kristologi Katolik. Film ini dipakai secara luas oleh kelompok misioner Protestan untuk evangelisasi. Sejumlah pemimpin Katolik menilai bahwa penggunaan film tanpa katekese dapat menimbulkan pemahaman yang keliru: manusia bisa mengira bahwa Yesus yang lembut dan selalu tenang adalah gambaran definitif, padahal Injil memberikan spektrum yang jauh lebih luas.

Tanggapan Pribadi Brian Deacon tentang Perannya dan biografinya: Brian Deacons (lahir 13 Februari 1949) adalah seorang aktor Inggris. Lahir di Oxford, ia menempuh pendidikan di Oxford Youth Theatre. Ia tampil bersama saudaranya, Eric Deacon, dalam film karya Peter Greenaway, A Zed & Two Noughts (1985), sebagai Heumac dalam The Feathered Serpent (1976, 1978), dan sebagai Frank Miles dalam serial TV Lillie pada tahun 1978. Ia telah menikah dua kali: pertama dengan Rula Lenska (1977–1987), yang dengannya ia memiliki seorang putri Lara Deacon, dan kedua kalinya dengan Natalie Bloch (1998 hingga sekarang). Ketenaran utama Deacon adalah ketika ia membintangi film Jesus pada tahun 1979, sebuah film yang diproduksi oleh sebuah organisasi evangelis, Jesus Film Project. Brian Deacon beberapa kali menegaskan bahwa ia tidak ingin dipandang sebagai figur rohani. Ia berkata: “I’m just an actor… I was the medium. It wasn’t me that impacted those people.”/"Aku hanya seorang aktor... Aku adalah perantara. Bukan aku yang berdampak pada orang-orang itu." (WaziAfrica, 2016). Pernyataan itu penting dalam diskursus teologis. Deacon menolak kultus pribadi, menolak dianggap suci, dan menolak dimaknai sebagai representasi aktual Yesus. Ia menempatkan dirinya sebagai alat artistik, bukan simbol keagamaan. Di tengah banyak film modern tentang Yesus, kerendahan hati Deacon membuat perannya tetap relevan hingga sekarang. 

Gambar, Wajah Asli Brian Deacon. 

Terlepas dari kontroversi teologis, film Jesus (1979) tetap menjadi salah satu karya religius paling berpengaruh dalam sejarah media Kristen. Film ini dapat menjadi sarana pengenalan Injil, terutama bagi mereka yang jauh dari Kitab Suci. Namun, gereja Katolik mengingatkan bahwa film bukanlah Injil, melainkan interpretasi artistik.Deacon sendiri memberikan pelajaran penting: wajah Yesus tidak bisa dimonopoli satu film, satu gambar, atau satu aktor. Kristus jauh melampaui representasi visual mana pun.

Film "Jesus" (1979) dengan Brian Deacon sebagai Yesus memicu kontroversi teologis karena gambaran Yesus yang lembut dan stabil, namun kurang menampilkan kompleksitas emosi manusiawi. Meskipun film ini berpengaruh dalam misi Kristen, gereja Katolik mengingatkan bahwa film bukanlah Injil, melainkan interpretasi artistik, dan Yesus tidak bisa dimonopoli satu wajah atau gambar.

Dart, John. How the Critics See Jesus. The Christian Century (2001).https://www.christiancentury.org/article/how-critics-see-jesus

Hope1032. Brian Deacon: The Face of Jesus (2016).https://hope1032.com.au/faith/brian-deacon-the-face-of-jesus/

Poling, Doug. The Real Face of Christ? The Christian Chronicle (2014).https://christianchronicle.org/the-real-face-of-christasearchresultsearchid2890145objectid4573721objecttype35/

Wazi Africa. Know About Brian Deacon Who Portrayed Jesus (2016).https://waziafrica.blogspot.com/2016/11/know-about-brian-deacon-who-portray.html

Kitab Suci: Matius 21:12; Yohanes 11:35; Matius 26:38.

 Wikipedia​ Brian https://www.themoviedb.org/person/107241-brian-deacon


Filem tentang yesus. https://showpoiler.com/film-tentang-yesus/


Wekipedia bahasa Indonesia. Jesus Film Project. https://id.wikipedia.org/wiki/Jesus_Film_Project


Mari menulis sederhana banyak kekurangan dlm tulisan ini namun marilah menulis dengan mulai dari hal sederhana dan itu dapat menambah pengetahuanmu selanjutnya. 

Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...