Langsung ke konten utama

Hegemoni di Zaman Konsensus Palsu: Membaca Gramsci tentang Kekuasaan yang Sunyi

Mengapa masyarakat sering menerima keadaan yang sebenarnya merugikan mereka? Mengapa ketimpangan sosial, dominasi ekonomi, atau kebijakan yang tidak populer tetap bertahan tanpa perlawanan besar? Pertanyaan ini pernah diajukan oleh seorang pemikir Italia bernama Antonio Gramsci hampir seabad lalu. Jawabannya masih terasa relevan hari ini. Ia ahir di Sardinia pada 1891 dan tumbuh dalam pergolakan sosial-politik Italia, Gramsci menyaksikan secara langsung krisis liberalisme dan bangkitnya fasisme di bawah Benito Mussolini. Dalam kondisi terpenjara oleh rezim tersebut, ia menulis refleksi-refleksi mendalam yang kemudian dikenal sebagai Prison Notebooks sebuah laboratorium konseptual yang melahirkan teori hegemoni.


 Setiap orang adalah intelektual, tetapi tidak semua orang memiliki
fungsi intelektual dalam masyarakat (
Antonio Gramsci 1891).



Gramsci hidup di bawah rezim fasis Benito Mussolini. Dari dalam penjara, ia menulis catatan yang kemudian dikenal sebagai Prison Notebooks. Dalam karya itulah ia memperkenalkan konsep yang kini banyak dipakai dalam studi politik dan budaya: hegemoni.

Berbeda dengan pemikiran klasik Karl Marx yang menekankan negara sebagai alat penindasan kelas, Gramsci melihat bahwa kekuasaan modern tidak bekerja hanya melalui kekerasan atau hukum. Ia bekerja melalui persetujuan. Kekuasaan bertahan bukan hanya karena takut, tetapi karena dianggap wajar.

Inilah yang disebut hegemoni, kepemimpinan moral dan intelektual yang membuat nilai-nilai kelompok dominan diterima sebagai akal sehat. Sekolah mengajarkan disiplin tertentu, media membingkai peristiwa dengan sudut pandang tertentu, budaya populer membentuk selera dan impian tertentu. Tanpa terasa, masyarakat menginternalisasi cara berpikir yang menopang sistem yang ada.

Dalam konteks hari ini, hegemoni dapat dilihat dalam cara media sosial membentuk opini publik, dalam bahasa pembangunan yang selalu identik dengan pertumbuhan ekonomi, atau dalam anggapan bahwa pasar adalah solusi atas hampir semua persoalan. Banyak kebijakan diterima bukan karena sepenuhnya adil, tetapi karena telah dibingkai sebagai sesuatu yang rasional dan tak terhindarkan.

Gramsci menyebut situasi ini sebagai negara integral gabungan antara kekuatan politik dan kekuatan budaya. Negara tidak hanya hadir melalui aparat, tetapi juga melalui ruang-ruang sipil: pendidikan, agama, media, bahkan hiburan. Di sanalah persetujuan diproduksi.

Karena itu, perubahan sosial tidak cukup hanya dengan merebut kekuasaan formal. Ia menuntut perjuangan panjang dalam membentuk kesadaran. Gramsci menyebutnya war of position perjuangan ide, nilai, dan makna dalam kehidupan sehari-hari. Politik bukan sekadar perebutan jabatan, tetapi perebutan definisi tentang apa yang dianggap normal dan mungkin.

Apakah hegemoni bisa dihapuskan? Tidak. Setiap tatanan sosial akan memiliki kepemimpinannya sendiri. Pertanyaannya bukan apakah hegemoni ada atau tidak, melainkan siapa yang memimpinnya dan untuk kepentingan siapa ia bekerja.

Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi politik, pemikiran Gramsci mengingatkan kita bahwa kekuasaan paling efektif bukanlah yang memaksa tubuh, melainkan yang membentuk pikiran. Kesadaran publik adalah medan pertarungan sejarah yang sesungguhnya. Dan di medan itulah masa depan ditentukan.

Postingan populer dari blog ini

Dari Seorang Laki-Laki Pendosa Kepada perempuan Berjubah ”Suara Dalam Keheningan”

Terkadang dalam sunyi, kita mendapati diri kita terjerat dalam alunan kesalahpahaman , terpilin di antara harapan dan realitas yang tak terucap. Pada suatu pagi yang sunyi, ketika kabut masih menyelimuti hati, aku menemukan diriku terperangkap dalam pergulatan antara keinginan dan keputusasaan.         Dalam susana yang hening Perempuan berjubah , dalam keheningan pagi ini, doaku adalah seutas benang yang tersusun dari kata-kata yang tergores di antara relung hati yang penuh dosa. Apa kabarmu hari ini? Apakah kau masih terbaring di tempat tidur, ataukah kau sedang merangkai kata-kata yang membentuk narasi yang mempesona, meramu kalimat demi kalimat menjadi sebuah karya yang menggetarkan jiwa?   Ketika kau pertama kali menghampiriku, aku seperti jiwa yang tenggelam dalam lautan api neraka, terbakar oleh dosa-dosa yang menghantui. Kau datang dengan janji surga, sebuah surga yang kau gambarkan begitu indah, damai, dan penuh cahaya. Aku memandang jubahmu yang menena...

AKU KETUK PINTU TUA ITU

     Ketika fajar mulai menyinsing, aku duduk sambil menatap indahnya suasana dipagi hari. Dalam kemelut hati kecilku aku berdoa agar aktivitas belajar mengajar hari ini berjalan dengan lancar. Seketika itu juga, aku mengambil dompetku dan melihat isinya yang sudah mulai menipis   aku menemukan selembar kertas yang aku pernah sisipkan di dalam saku kecil dompet itu. Ketika aku membuka kertas itu aku menemukan 20 foto yang masih utuh, dan foto-foto kecil itu membuat aku flashback dengan momen hore yang telah aku lewati yaitu masa putih abu yang hanya tinggal kalbu .      Aku membuka lembar demi lembar dan aku menyusunyan dengan rapi. aku mencari foto kecil yang dulu pernah mengukir romansa yang indah bersamaku. Kami menciptakan panorama yang begitu indah sehingga menciptakan keromantisan yang sulit dilupakan. Parasnya selaras dengn kecerdasanya, dan bahkan itu semua menjadi tawanan bagi hati kaum adam. Aku mulai duduk dan merenung, ketika aku menemuka...

ANGAN TAK SAMPAI

Memandangi hujan yang semakin deras. Ruteng - kota dingin yang menjadi saksi pertemuan singkat seorang mahasiswa dengan perempuan muda yang tidak dikenalnya. Di sebuah halte yang sepi, seorang perempuan muda berdiri sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya. perempuan muda itu juga  ternyata baru pulang dari kampusnya. Ia tidak menyangka, hujan akan turun deras tanpa tanda-tanda sebelumnya. Perempuan muda itu menunggu di bawah atap halte, berharap hujan segera reda. Sesekali, ia mengintip ke jalan mengamati tetes-tetes hujan yang jatuh dan memantul di aspal . Hatinya gelisah, karena setiap detik yang berlalu semakin membuatnya terlambat untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba, perempuan muda itu merasakan senyuman hangat di sampingnya. Ia berbalik dan menemukan seorang mahasiswa yang dengan bermotor revo .Pria itu bernama pahur . Seorang mahasiswa lugu dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Di halte, Mereka berbicara sembari berbagi cerita tentang kesulitan menunggu hujan re...