Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Doa Terasa Sunyi: Refleksi Iman Katolik di Tengah Hidup yang Melelahkan

Postingan terbaru

Kudatuli sebagai Cermin Retak Demokrasi: Refleksi Progresif Melawan Reaksioner

Sejarah bangsa ini tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan gema, luka, dan pertanyaan yang terus menuntut keberanian untuk dijawab. Kudatuli bukan sekadar catatan tanggal dalam buku sejarah, melainkan simbol retaknya demokrasi ketika kekuasaan merasa terancam oleh suara rakyatnya sendiri. Dari peristiwa itu, kita belajar bahwa demokrasi tidak selalu tumbuh di ruang yang steril, ia sering lahir dari benturan, represi, dan keberanian untuk bertahan. Hendrianus J. Pahur , merasa pilu mendengar pristiwa kudatuli yang mengkambing  hitamkan mahasiswa.  Bagi mahasiswa, Kudatuli bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi cermin kritis bagi kesadaran hari ini. Apakah kita akan menjadi generasi yang sekadar menghafal sejarah, atau generasi yang menafsirkannya sebagai panggilan untuk berpihak pada keadilan? Di tengah kecenderungan politik elitis dan reaksi kekuasaan yang membungkam, refleksi atas Kudatuli menjadi relevan sebagai ruang pembentukan sikap: progresif, kritis, dan revolusion...

INDONESIA INDOSIAR

Sejarah Rakyat Indonesia adalah Sejarah Ketertindasan. Gelora reformasi yang terjadi sekarang, telah melupakan hakikat ketertindasan karena seolah-olah setelah kita mendapatkan kebebasan politik atau demokrasi politik, maka ketertindasan struktural berupa kesengsaraan dan kebodohan pun tidak terjadi lagi. Dengan kebebasan politik itu, seolah-olah rakyat pastilah akan mencapai kebahagiaan. Hendrianus J. Pahur , menolak reksioner elitis.  Revolusi adalah penggulingan kekuasaan pemerintah yang sah serta penghapusan konstitusi pemerintah oleh kelas sosialis yang bertujuan mengubah struktur sosial masyarakat” ( Pakar Marxis Prof. Dr. Herberth Marcuse , Guru Besar Universitas Harvard ) .  Bersandar pada revolusi itu berarti menolak reaksiner elitis. Negara revolusi seperti apa keti kedaulatan itu masih terasa pasif. Kritikan demi kritikan dilontarkan hanya untuk mencapai demokrasi yang bijak dan baik. The govermend of the people, by the people, for the people yang di daraskan oleh...

SMA Negeri 3 Lamba Leda

Harapan dalam Terang Iman Refleksi Seorang Alumni Angkatan 2021 dalam Perspektif Teologi Katolik SMA Negeri 3 Lamba Leda bukan hanya ruang akademik dalam perjalanan hidup saya, tetapi juga medan pembentukan manusia seutuhnya. Sebagai alumni tahun 2021, saya melihat sekolah ini sebagai tempat di mana akal budi, karakter, dan harapan saya bertumbuh. Dalam terang iman Katolik , pengalaman ini memiliki makna yang lebih dalam. Pendidikan adalah bagian dari karya keselamatan Allah bagi manusia. Foto Hendrianus Jerinus Pahur, Alumni SMAN 3 Lamba Leda.  Gereja Katolik mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan menurut citra dan rupa Allah ( Imago Dei ; Kej. 1:27). Artinya, setiap peserta didik terrmasuk siswa-siswi SMAN 3 Lamba Leda memiliki martabat yang luhur dan tidak dapat direndahkan oleh kondisi geografis, ekonomi, atau keterbatasan fasilitas. Kesadaran inilah yang secara tidak langsung saya alami selama bersekolah. Saya diajar untuk percaya bahwa kami berharga dan mampu berkemba...

SMAN 3 LAMBA LEDA MENETAS HARAPAN.

Desa Compang Mekar, Kecamatan Lambaleda , Kabupaten Manggarai Timur , berdiri SMAN 3 Lamba Leda sekolah menengah atas negeri yang telah menjadi simbol harapan bagi anak-anak di wilayah terpencil. Sejak berdiri pada 7 Juni 2013, sekolah ini menjadi tempat di mana mimpi bertemu dengan kerja keras, dan semangat belajar tumbuh meski tantangan tidak sedikit. Dokumentasi Siswa Lulusan tahun 2023 Yang membuat SMAN 3 Lamba Leda begitu istimewa bukan hanya gedung atau fasilitasnya, melainkan semangat guru dan siswa setiap hari. Para guru rela menempuh jalan telford yang licin dan terjal demi memastikan setiap murid mendapatkan pendidikan terbaik. Sementara siswa-siswi menapaki jalan yang sama, membawa mimpi dan harapan mereka ke ruang kelas. Ini adalah bukti nyata bahwa semangat belajar tidak mengenal keterbatasan. Selain itu, SMAN 3 Lamba Leda terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan akreditasi C, dukungan listrik PLN , dan akses internet, sekolah ini membuka peluang belajar y...

Refleksi Teologis: Persahabatan Sebagai Garda Dalam Langkah Kehidupan

    Persahabatan adalah anugerah kasih Allah yang menghadirkan kebersamaan, kesetiaan, dan saling menopang, sehingga manusia tidak berjalan sendiri, melainkan diteguhkan dan dituntun dalam setiap langkah hidup menuju kebaikan dan kedewasaan iman.  Dalam terang iman Kristen, persahabatan bukan sekadar hubungan sosial yang lahir dari kebersamaan, melainkan anugerah Allah yang menghadirkan kasih-Nya secara nyata dalam kehidupan manusia. Persahabatan menjadi garda yang menjaga dan menuntun langkah hidup, terutama ketika manusia menghadapi tantangan, kelelahan, dan kebingungan arah. Dalam pengalaman konkret, persahabatan kampus yang saya hidupi bersama Paulus Mario Maarselino menjadi ruang di mana makna teologis persahabatan itu dialami dan direnungkan. Dokumentasi Bersama Paulus Mario Marselino, Ruteng, 14 Januari 2026.              Kitab Suci menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk relasional. Pernyataan Allah, Tidak baik...

MOMEN ASISTENSI NATAL TAHUN 2025.

Di Jalan yang Menyempit, Hati Kami Justru Dilapangkan Catatan Asistensi Natal Mahasiswa Pendidikan Teologi di Stasi St. Petrus Kole , paroki St. Pio Langke Majok. Ruteng , Selasa, 23 Desember 2025. Tepat pukul dua belas siang, kami memulai perjalanan menuju Stasi St. Petrus Kole. Jalan yang kami lalui terasa lebih sempit dari biasanyabukan karena badan jalan mengecil, melainkan karena hati kami yang dipenuhi harap, penasaran, dan sedikit cemas. Di setiap kepala mahasiswa berputar pertanyaan yang sama: “Kami akan diterima seperti apa?” Gereja Stasi St. Petrus Kole. Pertanyaan itu wajar. Kami datang bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai mahasiswa yang hendak tinggal, bekerja, berbaur, dan melayani umat selama beberapa hari menjelang Natal. Stasi St. Petrus Kole, Paroki St. Pio Langke Majok , menjadi tujuan asistensi kami tahun ini, sebuah nama yang kelak tak lagi sekadar alamat, melainkan rumah kenangan. Kami adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi Universitas Katolik I...

Refleksi Tema Natal 2025 "Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga" (Matius 1:21–24)

Natal bukan sekadar perayaan kelahiran seorang bayi di Betlehem, melainkan peristiwa iman yang menegaskan bahwa Allah sungguh hadir dalam sejarah manusia . Ia tidak datang dalam kemegahan istana, tetapi masuk ke dalam ruang paling sederhana dan paling rapuh dalam hidup manusia  keluarga . Tema Natal 2025, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” , mengajak kita merenungkan kembali makna kehadiran Allah yang menyelamatkan, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga nyata dalam dinamika kehidupan keluarga sehari-hari. Menulis Dalam  Inspirasi, Dituntun Oleh Hati Iklas. Injil Matius (1:21–24) mengisahkan bagaimana malaikat Tuhan menyampaikan pesan kepada Yusuf “Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Nama Yesus sendiri berarti Allah menyelamatkan . Keselamatan itu tidak dimulai dari bait suci atau pusat kekuasaan, melainkan dari sebuah keluarga sederhana keluarga Yusuf dan ...

Antara Napas dan Jejak

Jiwa yang membadankan, badan yang menjiwa  adalah cara Tuhan menghadirkan manusia sebagai makhluk yang tidak hanya berpikir tentang dunia, tetapi juga merasakan denyut luka dan harapan dunia itu sendiri. Objek visual penuh makna mendalam . Ketika jiwa membadankan, ia turun dari awan ide ke tanah tempat kita berpijak menjadi keberanian yang bersuara, menjadi kasih yang bekerja, menjadi iman yang menjelma tindakan. Ketika badan menjiwa, ia tidak sekadar menjadi daging yang lelah oleh hari-hari, tetapi menjadi bait kehidupan, tempat kehadiran Allah mengalir melalui langkah, peluh, dan perjuangan. Di sanalah manusia menemukan martabatnya, diciptakan dari tanah, namun ditiupkan napas Ilahi; dekat dengan bumi, namun tertarik ke langit; membela sesama, namun sekaligus memuliakan Sang Pencipta. Dan dalam perjuangan merawat kehidupan entah menjaga hutan, menolak ketidakadilan, atau mempertahankan tanah leluhur jiwa dan badan bersaksi bersama, bahwa iman bukan sekadar kata-kata,  mel...

BBM "Negara Yang Absen"

Di Ruteng , ketika fajar masih menggantung di pucuk bukit Golo Dukal dan embun belum sempat jatuh ke tanah, barisan motor sudah berdiri berjajar. Orang-orang berkumpul seperti jamaah doa pagi bukan untuk memohon keselamatan, tetapi berharap satu hal sederhana " BBM datang hari ini". Di wajah-wajah itu ada harap yang rapuh, seperti lilin kecil yang nyalanya bisa padam oleh angin alasan yang selalu sama: truk terlambat, jalur rusak, kapal belum tiba . Di tanah yang subur ini, kelangkaan BBM telah menjadi semacam ritual pahit yang terus berulang. Ia bukan lagi kejadian darurat; ia telah menjelma menjadi denyut kehidupan sehari-hari. Setiap antrean adalah puisi muram yang ditulis rakyat, dengan jerigen sebagai titik komanya. Padahal undang-undang berbicara keras lebih keras dari suara klakson di depan SPBU . UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi memerintahkan negara untuk menjamin ketersediaan energi bagi rakyat, adil, merata, dan pasti . Dalam UU Administrasi Pe...

Wajah Yesus di Layar "Brian Deacon" dan Kontroversinya.

Gambar, Wajah Brian Deacon , pada saat berperan sebagai actor Yesus dalam video "The Jesus  film".  Film Jesus (1979) karya John Heyman merupakan salah satu film religius paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan modern. Dengan distribusi ke lebih dari 2000 bahasa, film ini telah digunakan dalam misi Kristen di berbagai negara. Namun, figur Brian Deacon sebagai Yesus menjadi sorotan tersendiri. Banyak orang melihatnya sebagai ikon Yesus, sementara sebagian kritikus menilai gambaran itu terlalu lembut dan kurang mencerminkan Yesus historis. Bahkan The Christian Century menulis bahwa film ini “menekankan kemanusiaan Yesus tanpa mengurangi keilahian-Nya, bahkan dengan menjaga kata-kata teks Injil” (Dart, 2001), tetapi tetap dianggap terlalu rapi dalam menggambarkan manusiawi Yesus. Brian Deacon: Ketika Kesederhanaan Dianggap sebagai Kesucian.  Brian Deacon dipilih dari ribuan aktor yang mengikuti audisi. Ia sendiri mengakui bahwa memerankan Yesus membawa konsekuensi se...

Semua Manusia Adalah Guru yang Menggurui: Refleksi Hari Guru 2025.

Setiap tanggal 25 November , bangsa Indonesia memperingati Hari Guru sebagai wujud penghargaan terhadap mereka yang menyalakan obor pengetahuan dan membentuk karakter generasi muda. Namun, jika direnungkan lebih jauh, peran seorang guru tidak terbatas pada profesi formal di kelas, melainkan melekat tanpa sayap setiap interaksi manusia sehari-hari. Pepatah bijak mengatakan: “Semua manusia adalah guru yang menggurui.” Pernyataan ini mengajak kita untuk melihat bahwa setiap pengalaman hidup, setiap kata, dan setiap tindakan dapat menjadi pelajaran bagi orang lain. Kutipan kata-kata Inspirasi yang penuh makna mendalam.  Guru formal di sekolah memiliki tanggung jawab besar: menyampaikan ilmu, menanamkan nilai, dan membimbing murid agar mampu menghadapi dunia yang kompleks. Namun, guru sejati tidak hanya mengajar dari buku atau silabus. Guru hadir dalam bentuk contoh nyata, dalam cara ia menghadapi kesulitan, menunjukkan empati, dan membangun karakter. Bahkan kesalahan dan keterbatasan...