Sejarah bangsa ini tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan gema, luka, dan pertanyaan yang terus menuntut keberanian untuk dijawab. Kudatuli bukan sekadar catatan tanggal dalam buku sejarah, melainkan simbol retaknya demokrasi ketika kekuasaan merasa terancam oleh suara rakyatnya sendiri. Dari peristiwa itu, kita belajar bahwa demokrasi tidak selalu tumbuh di ruang yang steril, ia sering lahir dari benturan, represi, dan keberanian untuk bertahan. Hendrianus J. Pahur , merasa pilu mendengar pristiwa kudatuli yang mengkambing hitamkan mahasiswa. Bagi mahasiswa, Kudatuli bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi cermin kritis bagi kesadaran hari ini. Apakah kita akan menjadi generasi yang sekadar menghafal sejarah, atau generasi yang menafsirkannya sebagai panggilan untuk berpihak pada keadilan? Di tengah kecenderungan politik elitis dan reaksi kekuasaan yang membungkam, refleksi atas Kudatuli menjadi relevan sebagai ruang pembentukan sikap: progresif, kritis, dan revolusion...
Hendrianus Jerinus Pahur "Lolik Pahur"